MSCI Hapus BREN Dan DSSA, Ancaman Dana Pasif Rp25,5 Triliun Mengguncang IHSG

Morgan Stanley Capital International atau MSCI resmi menghapus saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari daftar akibat kategori konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Keputusan ini langsung memicu perhatian pasar karena menyangkut dua emiten berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi bagian penting dalam pergerakan indeks.

Pengumuman tersebut juga menekan sentimen di pasar saham domestik. Pada sesi pertama perdagangan Selasa (21/4), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,59 persen ke level 7.549,41, dengan nilai transaksi mencapai Rp9,81 triliun dan 298 saham melemah.

Mengapa MSCI menghapus BREN dan DSSA

MSCI menyebut langkah ini sebagai kebijakan interim yang terkait dengan HSC. Dalam keterangannya, MSCI mengatakan, “MSCI tidak akan memasukkan data dari sumber dan keterbukaan baru tersebut dalam penilaian free float maupun perhitungan indeks hingga proses evaluasi selesai serta masukan dari pelaku pasar diterima dan dianalisis.”

Artinya, MSCI menahan penambahan saham baru ke MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF). Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penyedia indeks global itu masih menilai efektivitas data free float dan transparansi kepemilikan di pasar modal Indonesia.

Langkah ini berkaitan dengan upaya pembaruan keterbukaan informasi yang dijalankan otoritas pasar modal dalam negeri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya mewajibkan keterbukaan bagi pemegang saham di atas 1 persen untuk memperbaiki kualitas data likuiditas.

Dampak langsung ke pasar

Pasar merespons cepat setelah kabar penghapusan dua saham tersebut beredar. Pada sesi pertama perdagangan, BREN turun 7,20 persen ke Rp6.125 dan DSSA melemah 13,15 persen ke Rp2.840.

Tekanan pada dua saham itu ikut membebani indeks. Sejak awal tahun, BREN dan DSSA disebut menjadi pemberat utama dengan kontribusi penurunan lebih dari 180 poin terhadap IHSG.

CNBC Indonesia melaporkan, penghapusan emiten berstatus HSC berpotensi memicu likuidasi dana pasif sekitar Rp25,5 triliun. Dampaknya diperkirakan dapat menekan IHSG secara kumulatif sebesar 2,14 persen menuju area 7.340.

Rotasi dana bisa mengalir ke saham lain

Meski keputusan MSCI memicu volatilitas jangka pendek, pasar juga melihat potensi pergeseran dana ke saham lain dalam ekosistem indeks. Rebalancing portofolio diperkirakan akan mendistribusikan likuiditas secara lebih proporsional ke 15 konstituen MSCI lainnya.

Sektor perbankan disebut berpeluang menjadi penerima utama aliran modal dari rotasi dana pasif tersebut. Perkiraan awal menunjukkan dorongan terhadap indeks bisa mencapai 0,81 persen jika rotasi berlangsung sesuai ekspektasi pelaku pasar.

Peringatan bagi aksesibilitas pasar Indonesia

MSCI menegaskan bahwa penilaian atas pasar modal Indonesia belum selesai. Evaluasi final terhadap aksesibilitas pasar dijadwalkan dilakukan pada Market Accessibility Review bulan Juni 2026.

Proses ini penting karena akan menjadi tolok ukur apakah reformasi transparansi di pasar domestik sudah memenuhi standar investor institusional global. Selama evaluasi berlangsung, pasar masih berhadapan dengan risiko perubahan komposisi indeks dan dampak lanjutan pada aliran dana asing.

Kondisi tersebut membuat perhatian pelaku pasar tetap tertuju pada respons otoritas dan emiten terkait keterbukaan kepemilikan. Kejelasan data free float dan struktur saham menjadi faktor kunci yang dapat memengaruhi posisi Indonesia di mata penyedia indeks global seperti MSCI.

Terkait