IHSG Diproyeksi Diserbu Dana Asing, Di Tengah Perang Pasar Justru Menyimpan Harapan

IHSG masih memikat minat investor asing meski indeks sempat terkoreksi tipis. Pada perdagangan kemarin, IHSG melemah 0,46%, tetapi investor mancanegara justru mencatat net buy sekitar Rp243 miliar, terutama di saham-saham sektor energi dan pertambangan.

Aliran dana asing ini menjadi sentimen positif di tengah pasar yang bergerak hati-hati. Di saat tekanan global meningkat akibat ketegangan geopolitik AS-Iran, pasar domestik masih mendapat penopang dari aksi beli bersih pada sejumlah emiten pilihan.

Dana Asing Masuk ke Saham Energi dan Tambang

Aktivitas beli asing banyak terlihat pada saham EMAS, INDY, UNTR, BNBR, dan BULL. Pola ini menunjukkan minat investor global masih cukup kuat pada sektor berbasis komoditas, meski IHSG belum mampu bergerak agresif.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa minat pasar tidak selalu sejalan dengan pergerakan indeks utama. Dalam situasi seperti ini, aliran modal asing kerap menjadi petunjuk penting bagi saham-saham yang berpotensi bergerak lebih kuat dibanding indeksnya.

IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways

Secara teknikal, IHSG diperkirakan cenderung mendatar atau sideways pada perdagangan hari ini. Area support berada di kisaran 7450-7500, dan level ini akan menjadi penentu arah gerak indeks dalam jangka pendek.

Jika area tersebut mampu bertahan, IHSG masih punya peluang menguji resistance di rentang 7570-7600. Namun, selama sentimen eksternal belum stabil, ruang kenaikan indeks tetap berpotensi terbatas.

Tekanan Global Masih Membayangi Pasar

Wall Street ditutup melemah setelah kekhawatiran terhadap perkembangan hubungan AS-Iran kembali meningkat. S&P 500 turun 0,63%, sedangkan Nasdaq Composite dan Dow Jones Industrial Average masing-masing terkoreksi 0,59%.

Pasar merespons sinyal bahwa kesepakatan damai belum menunjukkan kepastian dalam waktu dekat. Penundaan rencana kunjungan Wakil Presiden AS, JD Vance, ke proses negosiasi dengan Teheran juga ikut menambah kehati-hatian investor global.

Presiden Donald Trump disebut memperpanjang masa gencatan senjata sampai ada proposal resmi. Namun, ia juga menegaskan militer AS tetap dalam posisi siaga tempur jika pembicaraan tidak menemukan titik temu.

Bursa Asia Lebih Tangguh

Berbeda dari Wall Street, mayoritas bursa Asia justru ditutup menguat. Kospi Korea Selatan memimpin kenaikan dengan lonjakan 2,7%, diikuti Taiex Taiwan yang naik 1,75% dan Nikkei 225 Jepang yang menguat 0,9%.

Penguatan itu ditopang optimisme terhadap sektor teknologi, terutama euforia seputar kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Pasar Asia juga mencermati sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon pimpinan The Fed, yang menegaskan komitmen menjaga independensi kebijakan moneter bank sentral AS.

Strategi yang Dipilih Saat Pasar Cenderung Datar

Dalam kondisi IHSG yang berpotensi bergerak terbatas, strategi trading cepat menjadi opsi yang lebih relevan dibanding mengejar pergerakan besar. Investor disarankan lebih selektif dan memperhatikan level teknikal sebelum masuk ke saham tertentu.

BNI Sekuritas mencermati sejumlah saham sebagai ide perdagangan, seperti BUMI di area 238-240 dengan target 246-250 dan cut loss di bawah 236. CUAN juga masuk pantauan speculative buy di area 1500-1530 dengan target 1560-1600.

Selain itu, BUVA berada di area beli 1285-1300 dan MBMA di rentang 715-730. Untuk trader yang lebih agresif, VKTR menarik jika mampu menembus 990 dengan target 1005-1030, sementara RLCO dan BDMN bisa dipantau, meski likuiditas pada saham berkapitalisasi kecil tetap perlu diperhitungkan dengan hati-hati.

Dengan kombinasi dana asing yang masih masuk, tekanan geopolitik global, dan pergerakan bursa Asia yang relatif lebih kuat, IHSG tetap berada dalam fase yang menarik untuk dicermati. Fokus pasar hari ini tampaknya akan tertuju pada apakah indeks mampu bertahan di area support dan memanfaatkan arus beli asing sebagai penopang gerak berikutnya.

Source: www.suara.com
Exit mobile version