Dua Kali Wajah Kartini Menghiasi Rupiah, Dari Rp 5 Tahun 1953 Hingga Rp 10.000 1985

Author: Qoo Media

Raden Ajeng Kartini pernah menghiasi dua pecahan uang kertas rupiah yang berbeda, dan fakta ini menunjukkan bagaimana negara memberi tempat istimewa bagi tokoh emansipasi perempuan tersebut. Sosok Kartini tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga pernah hadir langsung di tangan masyarakat lewat alat pembayaran resmi.

Pengabadian wajah Kartini di uang rupiah menjadi salah satu bentuk penghormatan negara terhadap gagasan kesetaraan, kebebasan, dan anti-feodalisme yang ia perjuangkan. Pemikiran Kartini banyak dikenal melalui kumpulan surat berjudul Door Duisternis Tot Licht, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini di uang kertas Rp 5

Berdasarkan data resmi Bank Indonesia, Kartini pertama kali tampil pada uang kertas pecahan Rp 5 tahun 1953. Pecahan ini termasuk dalam seri tokoh dan kebudayaan, sekaligus menjadi seri cetakan pertama dari BI.

Persiapan uang Rp 5 tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak 1952. Namun, peluncuran resminya baru terlaksana pada 2 Juli 1953 setelah Undang-Undang mengenai Bank Indonesia disahkan.

Kementerian Budaya menjelaskan bahwa uang itu berbentuk persegi panjang dengan dominasi warna abu-abu, biru, dan putih. Gambar Kartini yang mengenakan kebaya dan sanggul ditempatkan di sisi depan bagian kiri.

Di bagian tengah uang tercetak tulisan “BANK INDONESIA LIMA RUPIAH”, keterangan tahun 1952, serta tanda tangan resmi Gubernur dan Direktur BI. Ornamen dua ekor burung dengan kepala saling menyilang turut memperkuat tampilan visual uang tersebut.

Sudut kanan atas dan kiri bawah menampilkan angka nominal yang dipadukan dengan motif roset dan sulur daun. Sisi belakang didominasi warna biru dan cokelat, dengan gambar pohon rindang yang dibuat cukup detail.

Pada bagian bawah sisi belakang juga terdapat ilustrasi dua ekor ular. Selain itu, tercantum kutipan undang-undang tentang pemalsuan uang serta angka nominal pecahan secara jelas.

Kembali muncul di pecahan Rp 10.000

Masa edar uang Rp 5 bergambar Kartini berlangsung sekitar sembilan tahun sebelum akhirnya ditarik dari peredaran pada 1961. Meski begitu, kehadiran Kartini di uang rupiah belum berhenti pada pecahan itu saja.

Wajah Kartini kemudian kembali digunakan pada uang kertas pecahan Rp 10.000 untuk tahun emisi 1985. Uang pecahan besar pada masanya itu beredar selama satu dekade sebelum resmi ditarik pada 1995.

Penggunaan wajah Kartini di dua pecahan berbeda menegaskan posisi pentingnya dalam sejarah Indonesia modern. Sosoknya dipandang sebagai pembuka jalan bagi perubahan cara pandang terhadap peran perempuan di ruang publik.

Kartini tidak dikenal sebagai pejuang yang mengangkat senjata di medan perang. Namun, pengaruh pemikirannya terus bertahan karena ia mendorong lahirnya kesadaran baru tentang pendidikan, kesetaraan, dan martabat perempuan.

Hingga kini, peringatan Hari Kartini setiap 21 April tetap menjadi pengingat atas warisan gagasan tersebut. Keberadaan wajah Kartini di uang kertas rupiah menjadi salah satu bukti bahwa negara pernah menempatkan warisan pemikirannya dalam simbol ekonomi yang digunakan luas oleh masyarakat.

Terbaru