Dua nama perempuan Indonesia kembali mencuri perhatian karena masuk dalam daftar The Real Time Billionaires List milik Forbes. Marina Budiman dan Dewi Kam tercatat sebagai dua wanita terkaya di Indonesia dengan total kekayaan yang disebut mencapai lebih dari Rp 80 triliun.
Daftar Forbes bersifat bergerak setiap saat karena mengikuti perubahan pasar saham dan nilai kekayaan bersih dari aset publik. Karena itu, posisi keduanya dapat naik atau turun seiring pergerakan emiten yang menjadi sumber utama kekayaannya.
Marina Budiman dan bisnis infrastruktur digital
Marina Budiman menempati posisi teratas di antara perempuan terkaya di Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh penting di balik pembangunan infrastruktur teknologi digital melalui PT DCII Indonesia.
Marina merupakan salah satu pendiri sekaligus Presiden Komisaris PT DCII Indonesia, perusahaan penyedia pusat data yang berdiri pada 2011. Bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia, Marina membawa perusahaan itu menjadi pemilik pusat data Tier-IV pertama di Asia Tenggara.
Fasilitas DCII tersebar di tiga lokasi strategis, yakni Jakarta, Cibitung, dan Karawang. Kehadiran tiga titik operasi tersebut mendukung kebutuhan data nasional yang terus berkembang.
Jejak karier Marina juga panjang di industri teknologi. Ia memulai karier di Sigma Cipta Caraka pada 1989 sebelum mendirikan Indonet pada 1994, yang dikenal sebagai penyedia layanan internet pertama di Indonesia.
Lulusan University of Toronto, Kanada, itu memiliki nilai kekayaan bersih sebesar 4,9 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 83 triliun. Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur perempuan paling menonjol dalam sektor teknologi di Indonesia.
Dewi Kam dan kekuatan bisnis batu bara
Nama kedua dalam daftar adalah Dewi Kam, pengusaha yang membangun kekayaannya dari sektor sumber daya alam dan energi. Berbeda dengan Marina, Dewi bertumpu pada bisnis komoditas batu bara melalui PT Bayan Resources Tbk.
Bayan Resources dikenal sebagai produsen batu bara terbesar di Indonesia berdasarkan volume penjualan. Kinerja saham perusahaan ini juga sempat menarik perhatian pasar ketika nilainya melonjak tiga kali lipat saat krisis global pada 2022.
Pada perdagangan Selasa, 21 April 2026, harga saham BYAN terpantau berada di angka Rp 12.300,00 per lembar. Pergerakan saham itulah yang menjadi salah satu penentu utama nilai kekayaan Dewi dalam daftar Forbes.
Selain batu bara, Dewi juga memegang peran dalam sektor ketenagalistrikan. Ia mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap Jeneponto di Sulawesi Selatan melalui PT Sumber Energi Sakti Prima.
Keterlibatannya tidak berhenti di situ. Dewi juga ikut dalam proyek strategis PLTU Cilacap bersama Richard Jassin untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Forbes mencatat kekayaan bersih Dewi Kam mencapai 4,8 miliar dollar AS. Sumber utama kekayaannya tetap berasal dari bisnis komoditas batu bara yang telah lama menopang posisinya di jajaran elite bisnis nasional.
Dua jalur bisnis, satu capaian besar
Meski berasal dari sektor yang sangat berbeda, Marina Budiman dan Dewi Kam sama-sama menunjukkan kuatnya peran perempuan Indonesia dalam bisnis bernilai tinggi. Marina tumbuh dari industri teknologi yang menopang transformasi digital, sementara Dewi membangun kekayaan dari energi dan sumber daya alam.
Keduanya juga memperlihatkan bahwa daftar miliarder Forbes tidak hanya diisi oleh pemain lama, tetapi juga oleh sosok yang mampu memanfaatkan momentum industri. Dalam konteks Indonesia, kehadiran Marina dan Dewi memberi gambaran bahwa sektor teknologi dan pertambangan masih menjadi ladang kekayaan besar yang mampu melahirkan nama-nama paling berpengaruh di level nasional.







