
PT Waskita Karya (Persero) Tbk mempercepat pembangunan LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome-Manggarai yang kini telah mencapai realisasi fisik 91,86 persen. Progres itu ditandai dengan tersambungnya seluruh perlintasan jalur layang di atas Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono, sehingga pekerjaan memasuki tahap yang semakin krusial.
Saat ini, fokus utama pengerjaan berada di pemasangan Steel Box Girder (SBG) di simpang Matraman. Tahap tersebut menjadi bagian penting untuk menyatukan titik-titik lintasan yang tersisa sebelum proyek transportasi massal ini masuk ke fase akhir penyelesaian.
Tahap krusial di simpang Matraman
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menyebut pencapaian tersebut sebagai momentum penting dalam konstruksi jalur LRT Jakarta Fase 1B. Ia menegaskan bahwa kelancaran progres proyek menunjukkan koordinasi yang kuat antara perseroan, PT Jakarta Propertindo, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lain.
Menurut Ermy, keberhasilan menyambungkan seluruh perlintasan jalur layang menjadi bukti bahwa pekerjaan di lapangan berjalan sesuai rencana. Pencapaian itu juga menandai kemampuan tim proyek menjaga ritme kerja di jalur padat aktivitas perkotaan.
Teknologi digital untuk menjaga keselamatan
Waskita Karya menerapkan Building Information Modelling atau BIM hingga level 7D untuk menangani kompleksitas konstruksi di wilayah lalu lintas padat. Perusahaan juga menggunakan teknik incremental lifting Steelbox Girder dan Traveler Launcher cast-in situ Balance Cantilever agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengganggu mobilitas masyarakat.
Ermy menilai pendekatan itu membantu pemasangan lintasan jalur layang di atas jalan tol berlangsung lebih mudah. Ia menambahkan bahwa strategi tersebut menunjukkan perhatian perusahaan terhadap keamanan dan keselamatan kerja di area proyek.
Penggunaan sistem digital juga memperkuat pengawasan pekerjaan dari awal hingga saat ini. Waskita menggabungkan data spasial, model BIM, dan jadwal pekerjaan dalam satu platform agar tim teknis maupun nonteknis bisa mengakses informasi proyek secara cepat.
Dampak bagi mobilitas warga Jakarta
Struktur utama pada koridor Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, hingga Jalan Sultan Agung kini telah tersambung sepenuhnya melalui jaringan rel layang terintegrasi. Keterhubungan ini menjadi salah satu indikator bahwa proyek menuju tahap penyelesaian akhir dan siap mendukung mobilitas perkotaan yang lebih baik.
Waskita menargetkan proyek bernilai Rp 4,1 triliun itu segera beroperasi untuk membantu mengurangi kemacetan di Jakarta Utara, Timur, dan Pusat. Perseroan juga menilai kehadiran LRT Jakarta Fase 1B dapat memberi dampak pada kualitas udara karena berpotensi menekan jejak karbon perkotaan.
Ermy mengatakan proyek ini telah lama dinantikan masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Menurut dia, kehadiran transportasi publik yang andal dan nyaman akan mendukung lingkungan yang lebih sehat serta sejalan dengan upaya menuju Net Zero Emission.
Deteksi dini hambatan lewat simulasi digital
Dalam pengembangan proyek ini, Waskita juga memanfaatkan drone fotogrametri dan simulasi 4D untuk mengelola data pekerjaan secara real time. Teknologi tersebut membantu tim teknis melihat potensi hambatan sebelum pekerjaan fisik berlangsung di lapangan.
Melalui simulasi digital, lebih dari 1.200 potensi hambatan berhasil diidentifikasi dan ditangani sebelum masuk tahap konstruksi fisik. Langkah ini meningkatkan presisi pekerjaan sekaligus memperkuat standar keselamatan pada proyek strategis daerah milik PT Jakarta Propertindo tersebut.
Keunggulan teknis itu pula yang membawa Waskita Karya menjadi finalis pada ajang Bentley’s Going Digital Awards Year in Infrastructure 2025 di Amsterdam. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan proyek berbasis digital kini menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur besar di wilayah perkotaan.









