
PT Astra International Tbk (ASII) melakukan penyegaran besar pada jajaran pengurus dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta, Kamis (23/4). Rudy resmi naik menjadi Presiden Direktur dan menggantikan Djony Bunarto Tjondro untuk memimpin perseroan hingga 2027.
Perombakan ini menandai babak baru di tubuh salah satu emiten otomotif terbesar di Indonesia. Di saat yang sama, Astra juga menambah beberapa nama di struktur direksi dan komisaris untuk memperkuat tata kelola perusahaan.
Perubahan di pucuk pimpinan
Rudy sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur sebelum memperoleh mandat baru dari para pemegang saham. Promosi ini menempatkannya di posisi sentral dalam arah bisnis Astra pada periode kepemimpinan berikutnya.
Selain Rudy, rapat juga menetapkan Siswadi dan Djap Tet Fa sebagai direktur baru. Kehadiran dua nama ini menambah susunan manajemen yang akan menjalankan strategi perusahaan pada fase mendatang.
Di jajaran komisaris, Prijono Sugiarto kembali dipercaya menjabat sebagai Presiden Komisaris. Astra juga memasukkan dua komisaris independen baru, yakni Muhamad Chatib Basri dan Pariya Tangtongpairath.
Fokus pada komposisi manajemen yang lebih kuat
Perubahan di level pengurus biasanya menjadi sinyal penting bagi investor karena mencerminkan arah penguatan organisasi. Dalam kasus Astra, penunjukan nama-nama baru menunjukkan upaya menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus memberi ruang pada kombinasi pengalaman dan perspektif baru.
Rapat pemegang saham ini tidak hanya memutuskan susunan pengurus, tetapi juga menegaskan agenda korporasi yang terkait langsung dengan kepentingan investor. Keputusan tersebut meliputi pembagian dividen tunai dari kinerja tahun buku 2025.
Dividen tunai Rp15,68 triliun disetujui
Pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai senilai total Rp15,68 triliun. Jumlah itu setara dengan 47,6 persen dari laba bersih konsolidasian Astra yang mencapai Rp32,76 triliun.
Jika dihitung per saham, total dividen yang dibagikan mencapai Rp390. Nilai itu terdiri dari dividen interim dan dividen final yang akan diterima investor sesuai ketentuan yang berlaku.
Porsi dividen itu juga lebih rendah 3,9 persen dibandingkan pembagian untuk tahun buku 2024 yang tercatat Rp406 per saham. Meski turun, angka tersebut tetap menunjukkan komitmen Astra untuk mengembalikan sebagian laba kepada pemegang saham.
Jadwal pembayaran dan laba ditahan
Laporan idnfinancials.com menyebut dividen interim sebesar Rp98 per saham telah dibayarkan pada 31 Oktober 2025. Adapun sisa dividen final sebesar Rp292 per saham dijadwalkan cair pada 25 Mei 2026.
Investor yang berhak menerima pembayaran final harus tercatat pada recording date 6 Mei 2026. Skema ini menjadi bagian dari mekanisme distribusi dividen yang berlaku bagi seluruh pemegang saham yang memenuhi syarat.
Setelah pembagian dividen selesai, Astra menetapkan sekitar Rp17,09 triliun sebagai laba ditahan. Dana tersebut akan tetap berada di kas perusahaan dan dapat menopang kebutuhan operasional maupun strategi bisnis ke depan.
Struktur baru direksi dan komisaris PT Astra International Tbk
- Presiden Komisaris: Prijono Sugiarto
- Komisaris Independen: Muhamad Chatib Basri
- Komisaris Independen: Pariya Tangtongpairath
- Presiden Direktur: Rudy
- Direktur: Siswadi
- Direktur: Djap Tet Fa
Susunan baru ini menjadi landasan bagi Astra untuk menjalankan agenda bisnisnya dalam periode kepengurusan berikut. Dengan kepemimpinan Rudy di kursi Presiden Direktur, perhatian pasar kini tertuju pada bagaimana perusahaan menjaga kinerja, tata kelola, dan konsistensi pembagian nilai bagi pemegang saham.









