PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi merombak sejumlah konstituen indeks utama, termasuk IDX30, LQ45, dan IDX80, untuk periode efektif 4 Mei hingga 31 Juli 2026. Penyesuaian ini dilakukan melalui evaluasi mayor untuk menjaga agar daftar saham acuan tetap mewakili emiten dengan likuiditas tinggi dan kualitas fundamental yang kuat di pasar modal.
Perubahan tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena indeks-indeks itu kerap menjadi rujukan reksa dana indeks dan Exchange Traded Fund (ETF). Saat sebuah saham masuk ke indeks bergengsi, minat beli dari dana pasif biasanya ikut meningkat, sementara saham yang keluar berpotensi menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek.
Perubahan utama di IDX30 dan LQ45
Dalam penyusunan ulang IDX30, BEI memasukkan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan menggantikan PT Indosat Tbk (ISAT). Indeks IDX30 sendiri berisi 30 saham dengan kapitalisasi pasar besar dan memenuhi kualifikasi kelayakan transaksi yang ketat.
Di LQ45, BEI menambahkan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Dua emiten yang keluar dari daftar itu adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Saringan HSC jadi faktor penentu
Salah satu dasar perubahan adalah penerapan kriteria High Shareholding Concentration (HSC). Kriteria ini menyoroti saham berkapitalisasi besar yang ternyata memiliki porsi kepemilikan publik yang rendah, sehingga likuiditasnya dinilai tidak ideal untuk menjadi konstituen utama indeks.
Penerapan saringan itu membuat BREN dan DSSA tersisih dari indeks utama. Data yang disebutkan menunjukkan konsentrasi kepemilikan BREN mencapai 97,31%, sedangkan DSSA berada di level 95,76%.
IDX80 ikut berubah
Penyesuaian besar juga terjadi pada IDX80, yang mendapat tambahan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan DEWA. Pada saat yang sama, BREN dan DSSA juga keluar dari daftar konstituen indeks tersebut.
| Indeks | Saham Masuk | Saham Keluar |
|---|---|---|
| IDX30 | ADMR | ISAT |
| LQ45 | DEWA, WIFI | BREN, DSSA |
| IDX80 | TPIA, DEWA | BREN, DSSA |
Pergerakan konstituen ini mencerminkan upaya BEI menjaga indeks acuan tetap relevan dengan kondisi pasar. Dengan komposisi yang lebih sesuai, indeks diharapkan bisa lebih stabil dan lebih mencerminkan saham yang aktif diperdagangkan.
Respons pasar langsung terlihat
Pengumuman perubahan indeks itu mendapat respons positif di awal perdagangan 27 April 2026. Saham WIFI tercatat memimpin penguatan di kelompok LQ45 dengan kenaikan 3,11%, disusul DEWA yang naik 2,47%.
Di jajaran IDX30, ADMR dibuka menguat 0,53% setelah masuk ke indeks tersebut. Sementara itu, TPIA yang baru masuk ke IDX80 juga bergerak naik 1,67%, seiring penyesuaian bobot oleh investor institusional.
Dampak ke likuiditas dan arah pasar
Masuknya emiten baru ke indeks utama berpotensi menambah likuiditas karena permintaan dari dana kelolaan pasif cenderung mengikuti komposisi indeks. Dalam kondisi pasar yang masih menghadapi tekanan sentimen global, tambahan likuiditas itu bisa membantu menopang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
BEI juga disebut akan terus memantau kepatuhan emiten terhadap rasio free float agar kredibilitas indeks acuan tetap terjaga. Pemantauan tersebut penting karena komposisi indeks bukan hanya soal kapitalisasi pasar, tetapi juga soal kualitas perdagangan dan keterbukaan saham di pasar.
