Laba Usaha BNBR Tembus Rp 211,96 Miliar, CCT Jadi Mesin Utama Grup Bakrie

PT Bakrie & Brothers Tbk mencatat kinerja keuangan yang menguat pada kuartal I 2026 dengan pendapatan naik 19,02 persen menjadi Rp 1,13 triliun. Di periode yang sama, laba usaha perseroan melonjak menjadi Rp 211,96 miliar dari sebelumnya Rp 62,33 miliar.

Pencapaian tersebut ikut ditopang oleh kenaikan EBITDA yang mencapai Rp 296,44 miliar atau tumbuh 252,43 persen. Manajemen menyebut hasil ini lahir dari dorongan utama sektor infrastruktur dan mobilitas listrik yang masih menjadi penopang penting bagi grup usaha.

Daya dorong dari infrastruktur dan mobilitas listrik

Direktur Utama dan CEO BNBR, Anindya Novyan Bakrie, menilai kinerja itu menunjukkan ketahanan bisnis perseroan di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Ia menegaskan bahwa BNBR tetap mampu menjaga pertumbuhan positif dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Kontribusi terbesar terhadap pendapatan datang dari PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) sebesar Rp 232,76 miliar. Selain itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group juga memberi dorongan pendapatan yang tumbuh 58,2 persen dibandingkan periode sebelumnya.

BNBR juga menyebut CCT menjadi penopang utama kenaikan EBITDA konsolidasi. Anindya menjelaskan bahwa kontribusi CCT mencapai Rp 126,6 miliar atau 50,4 persen dari total EBITDA BNBR konsolidasi.

Laba usaha terdorong kinerja jalan tol

Manajemen menilai unit jalan tol memiliki peran besar dalam pembentukan laba operasional grup. Anindya menyampaikan bahwa kenaikan laba usaha turut ditopang oleh kontribusi CCT sebesar Rp128,6 miliar atau 77 persen dari total laba usaha BNBR konsolidasi.

Data ini menunjukkan bahwa portofolio infrastruktur tetap menjadi motor utama bagi hasil usaha BNBR. Di saat yang sama, segmen bisnis lain mulai memberi tambahan pertumbuhan yang membantu memperkuat kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Direktur Keuangan BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti, menyebut PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group mencatat lonjakan pendapatan hingga 274,6 persen. Kenaikan itu setara dengan Rp 207,6 miliar dan terutama berasal dari pendapatan CCT.

Segmen lain ikut menguat

Selain infrastruktur, pertumbuhan juga terlihat pada sektor energi baru dan manufaktur. PT Helio Synar Energi membukukan kenaikan pendapatan 35,1 persen, sedangkan PT Bakrie Autoparts mencatat tambahan pendapatan Rp 13 miliar.

Meski begitu, perusahaan masih menghadapi tekanan pada sektor baja. BNBR tetap menyampaikan optimisme terhadap proyek-proyek baru yang berpotensi masuk pada semester I 2026.

Roy mengatakan perseroan menaruh harapan pada kenaikan pendapatan di sektor pipa dan EPC untuk oil and gas. Menurut dia, peluang itu terbuka seiring hadirnya upcoming project yang akan masuk dalam semester I 2026.

Saham BNBR ikut bergerak positif

Di pasar modal, saham BNBR ditutup di level Rp 214 per saham pada perdagangan Kamis sore. Secara akumulatif, harga saham perusahaan holding yang berdiri sejak 1942 itu telah naik 53,9 persen sepanjang tahun 2026.

Pergerakan saham tersebut mencerminkan respons pasar terhadap kinerja operasional BNBR yang membaik pada awal tahun. Dengan kombinasi pertumbuhan pendapatan, lonjakan EBITDA, dan laba usaha yang menanjak, BNBR memasuki fase berikutnya dengan dukungan kuat dari lini infrastruktur dan bisnis terkait mobilitas listrik.

Terkait