DPR RI memberi dukungan penuh terhadap percepatan 13 proyek hilirisasi fase II yang dikelola Danantara Indonesia. Langkah ini menjadi sorotan karena nilai investasinya mencapai Rp 116 triliun dan mencakup sektor energi, baja, hingga perkebunan.
Dukungan itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan rangkaian proyek strategis tersebut. Di mata DPR, dimulainya pengerjaan fisik menjadi sinyal bahwa pemerintah serius mendorong nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia.
Dorongan nilai tambah jadi pusat perhatian
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai hilirisasi bukan sekadar proyek industri, tetapi bagian dari perubahan cara Indonesia mengelola kekayaan alam. Ia menyebut pesan presiden sangat kuat karena hilirisasi memberi nilai tambah pada produk-produk alam, termasuk mineral dan pertanian.
Pernyataan itu menegaskan bahwa proyek fase II tidak hanya dipandang sebagai agenda pembangunan, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi jangka panjang. DPR melihat keberhasilan program ini sebagai bukti bahwa Indonesia ingin keluar dari pola lama penjualan bahan mentah.
Harapan pada pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja
Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Ermarini menilai fase kedua hilirisasi membutuhkan strategi pelaksanaan yang matang. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini memikul harapan besar publik, terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan serapan tenaga kerja.
Pandangan tersebut sejalan dengan ekspektasi bahwa proyek hilirisasi harus memberi dampak langsung ke perekonomian nasional. Jika berjalan sesuai rencana, proyek-proyek ini tidak hanya menambah kapasitas industri, tetapi juga membuka efek berganda bagi aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Serikat pekerja dorong kemandirian ekonomi
Dukungan terhadap hilirisasi juga datang dari kalangan pekerja. Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Arief Poyuono menilai program ini dapat menjadi fondasi kemandirian ekonomi Indonesia.
Ia menegaskan pentingnya penguatan nilai tambah di dalam negeri agar hasil pertumbuhan ekonomi tidak lari ke luar negeri. Arief juga mengkritik praktik lama ketika sumber daya alam diekspor dalam bentuk mentah.
Menurut dia, menjual bahan mentah sama artinya dengan melepas potensi pertumbuhan ekonomi ke negara lain. Karena itu, hilirisasi dinilai harus menjadi jalan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri global.
Tantangan teknis dan kebutuhan investasi
Arief menambahkan bahwa keberhasilan hilirisasi jangka panjang bergantung pada penguasaan teknologi, investasi besar, dan kualitas sumber daya manusia di bidang STEM. Ia menilai tiga unsur itu menjadi syarat penting agar proyek pengolahan dapat berjalan stabil dan berkelanjutan.
Dalam pandangannya, Danantara Indonesia perlu menjadi lembaga pembiayaan yang kuat untuk menopang pembangunan fasilitas pengolahan seperti smelter. Dukungan kelembagaan dianggap krusial agar proyek tidak berhenti di tahap seremonial, melainkan benar-benar menghasilkan kapasitas industri baru.
Arief menyebut hilirisasi sebagai cita-cita besar untuk menjadikan Indonesia berdaulat secara ekonomi. Ia juga menilai program ini harus menjadi tabungan masa depan bagi generasi mendatang.
Fokus proyek masih berjalan sesuai jadwal
Dari sisi pemerintah, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memastikan pembangunan 13 proyek itu masih berlangsung sesuai jadwal. Fokus utama diarahkan pada sektor mineral dan energi untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah.
Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi fase II tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur industri domestik. Dengan investasi jumbo dan dukungan lintas pihak, proyek ini kini menjadi salah satu ujian penting bagi akselerasi industri nasional.







