Surplus 70 Bulan Berturut-turut, Ekspor Besi-Baja Dan Nikel Jadi Penopang Utama

Author: Qoo Media

Surplus neraca perdagangan Indonesia terus bertahan di tengah ketidakpastian global dan kini sudah berlangsung 70 bulan berturut-turut hingga Februari 2026. Tren panjang yang dimulai sejak Mei 2020 ini menunjukkan daya tahan ekspor nasional saat banyak negara masih menghadapi tekanan perdagangan dan pasokan.

Di balik capaian itu, struktur ekspor Indonesia tampak semakin kuat. Sejumlah komoditas berbasis pengolahan, terutama besi, baja, dan produk turunan nikel, menjadi penopang utama, sementara kinerja nonmigas tetap jauh lebih dominan dibanding migas.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai surplus yang berkelanjutan ini menjadi sinyal positif bagi produktivitas dalam negeri. Ia menyebut peningkatan ekspor terjadi secara struktural, bukan hanya karena dorongan jangka pendek.

Dorongan dari hilirisasi

Faisal menjelaskan bahwa kebijakan hilirisasi pemerintah ikut mengangkat ekspor besi, baja, dan produk turunan nikel. Namun, ia menilai sebagian besar produk tersebut masih berada pada tahap pengolahan awal sehingga nilai tambah yang dihasilkan belum maksimal.

Menurut dia, potensi ekspor Indonesia akan lebih besar jika produk hilir diperdalam ke tahap yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dengan begitu, kontribusinya terhadap nilai ekspor nasional juga bisa meningkat lebih jauh.

Kinerja perdagangan masih ditopang nonmigas

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan surplus kumulatif Januari-Februari 2026 mencapai US$ 2,23 miliar. Angka itu lahir dari surplus nonmigas sebesar US$ 5,42 miliar, meski sektor migas masih mencatat defisit US$ 3,19 miliar.

Tiga negara yang tercatat sebagai penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia adalah Amerika Serikat, India, dan Filipina. Komposisi ini memperlihatkan bahwa pasar ekspor Indonesia tetap tersebar dan masih memberi ruang bagi pertumbuhan perdagangan.

Komoditas utama penyumbang surplus

Beberapa komoditas menjadi penopang paling besar dalam periode Januari-Februari 2026. Lemak dan minyak hewan atau nabati mencatat nilai surplus terbesar, disusul bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta alas kaki.

Komoditas Nilai Surplus
Lemak dan Minyak Hewan/Nabati US$ 6,49 miliar
Bahan Bakar Mineral US$ 4,01 miliar
Besi dan Baja US$ 2,70 miliar
Nikel dan Barang Daripadanya US$ 1,97 miliar
Alas Kaki US$ 0,99 miliar

Komposisi itu menunjukkan bahwa ekspor Indonesia tidak hanya ditopang oleh satu sektor. Kontribusi dari komoditas berbasis sumber daya alam dan produk olahan masih menjadi motor penting dalam menjaga surplus perdagangan.

Proyeksi surplus bisa melebar

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan surplus perdagangan akan terus berlanjut dan berpotensi melebar pada periode Maret 2026. Ia memperkirakan surplus bisa mencapai sekitar US$ 2,77 miliar.

Josua menilai perbaikan permintaan dari mitra dagang menjadi pendorong utama proyeksi tersebut. Sebagian negara disebut mempercepat pembelian dan menambah persediaan untuk mengantisipasi kenaikan harga serta gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Situasi itu membuat kinerja perdagangan Indonesia tetap berada di jalur positif, meski lingkungan global belum stabil. Dengan surplus yang terus bertahan selama hampir enam tahun, perhatian pasar kini tertuju pada sejauh mana ekspor berbasis hilirisasi bisa mendorong nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional.

Terbaru