Vietnam menghadapi tekanan inflasi yang makin berat setelah lonjakan harga energi global merembet ke biaya transportasi, gas domestik, dan kebutuhan pokok. Pada April 2026, laju inflasi negara itu naik ke 5,46% secara tahunan, jauh di atas perkiraan pasar.
Badan Statistik Nasional Vietnam mencatat angka tersebut sebagai sinyal bahwa guncangan harga energi mulai menekan ekonomi domestik lebih luas. Survei Bloomberg News sebelumnya hanya memperkirakan inflasi berada di level 4,80%.
Biaya energi memicu efek berantai
Badan statistik menyebut kenaikan harga gas domestik sejalan dengan harga bahan bakar global sebagai penyebab utama lonjakan inflasi. Tekanan itu kemudian merembet ke biaya bahan baku, transportasi, jasa, dan konstruksi.
Kondisi ini terjadi di tengah ketegangan di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang mendorong harga energi global naik. Dampaknya terasa cepat di Asia Tenggara, termasuk Vietnam, melalui kenaikan ongkos distribusi dan produksi.
Inflasi yang lebih tinggi juga mempersempit ruang bagi pelaku usaha dan rumah tangga. Harga logistik yang meningkat membuat biaya barang kebutuhan pokok ikut terdorong naik.
Neraca dagang ikut tertekan
Tekanan dari luar negeri tidak hanya terlihat pada inflasi, tetapi juga pada perdagangan Vietnam. Negara itu mencatat defisit perdagangan selama empat bulan berturut-turut karena impor bahan baku industri melonjak di pasar internasional.
Pada April 2026, defisit perdagangan Vietnam menembus US$3,28 miliar. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan defisit Maret yang sebesar US$677 juta dan melampaui perkiraan ekonom yang hanya melihat defisit sekitar US$400 juta.
Meski defisit melebar, aktivitas perdagangan tetap bergerak cepat. Ekspor naik 21% menjadi US$45,5 miliar, sementara impor tumbuh lebih kuat sebesar 32,5% menjadi US$48,8 miliar.
Ekspor naik, impor lebih cepat
Peningkatan impor terutama ditopang pengiriman bahan baku dan peralatan produksi. Lonjakan ini menunjukkan kebutuhan industri masih tinggi, tetapi sekaligus memperbesar tekanan pada neraca perdagangan.
Dalam empat bulan pertama 2026, surplus perdagangan Vietnam dengan Amerika Serikat tercatat naik 24,4% menjadi US$46,9 miliar. Pada periode yang sama, defisit perdagangan dengan China sebagai mitra utama justru meningkat 33,4% menjadi US$46,4 miliar.
Pola ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan perdagangan Vietnam masih sangat bergantung pada arus barang dari luar negeri. Ketika harga bahan baku internasional naik, biaya impor langsung ikut membengkak dan menekan keseimbangan perdagangan.
Bank sentral menghadapi tugas berat
Bank sentral Vietnam kini memproyeksikan inflasi tahunan dapat mencapai 5,5%, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 4,5%. Revisi ini dipicu oleh kenaikan biaya logistik dan barang kebutuhan pokok yang mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
Di saat yang sama, Bank Negara Vietnam juga memikul target pertumbuhan ekonomi yang agresif sebesar 10% tahun ini. Otoritas moneter berkomitmen memperketat pengendalian inflasi agar stabilitas nilai tukar dong tetap terjaga.
Langkah itu juga ditujukan untuk mencegah ekonomi mengalami overheating. Dengan tekanan harga yang datang dari energi global dan perdagangan luar negeri, Vietnam kini harus menjaga keseimbangan yang semakin sempit antara pertumbuhan tinggi dan stabilitas makroekonomi.
