
Laba Exxon Mobil dan Chevron sama-sama melampaui estimasi analis setelah reli harga minyak dan gas alam mengangkat pendapatan mereka. Kenaikan harga energi global menutup sebagian tekanan dari penurunan volume produksi yang dipicu konflik di Iran.
Exxon mencatat tambahan laba sebesar $1,7 miliar dari lonjakan harga, yang cukup untuk mengimbangi kerugian produksi senilai $400 juta. Namun, sekitar 15 persen dari total produksi global perusahaan itu masih belum beroperasi secara normal.
Chief Financial Officer Exxon, Neil Hansen, mengatakan sekitar 15% produksi global perusahaan masih tidak beroperasi. Ia juga menyebut ketidakpastian soal berapa lama Selat Hormuz akan tetap tertutup menjadi hambatan utama dalam memberi panduan kinerja ke depan.
Kondisi itu membuat Exxon kemungkinan akan mengevaluasi target produksi tahunan yang sebelumnya dipatok di 4,9 juta barel per hari. Di saat yang sama, perusahaan asal Texas itu tetap melanjutkan pembelian kembali saham senilai $4,9 miliar pada kuartal ini.
Chevron juga menunjukkan kinerja yang kuat dengan laba per saham disesuaikan sebesar $1,41, atau 51 sen di atas proyeksi pasar. Hasil tersebut ditopang oleh kenaikan harga minyak fisik di Kazakhstan dan kontribusi dari aset baru perusahaan di Guyana.
Chief Financial Officer Chevron, Eimear Bonner, mengatakan eksekusi perusahaan telah melampaui ekspektasi. Ia menegaskan Chevron masih berhati-hati sebelum menaikkan target buyback saham.
Chevron tercatat melakukan pembelian kembali saham senilai $2,5 miliar. Bonner mengatakan perusahaan membutuhkan prospek fundamental yang lebih tahan lama dan pembaruan harga yang lebih struktural sebelum mengubah kebijakan tersebut.
Ia menambahkan bahwa manajemen cukup puas dengan posisi keuangan perusahaan saat ini di tengah volatilitas pasar global. Sinyal positif dari Exxon dan Chevron juga sejalan dengan hasil kuat yang lebih dulu dibukukan BP Plc dan TotalEnergies SE pada awal pekan ini.
Lonjakan harga minyak internasional menjadi faktor penting di balik kinerja sektor energi besar. Harga minyak global sendiri telah naik lebih dari 50 persen sejak konflik pecah pada akhir Februari, dan kondisi itu masih memberi ruang bagi produsen besar untuk menjaga margin di tengah gangguan pasokan.









