Indonesia-Filipina Bentuk Koridor Nikel ASEAN, Pasokan Smelter Jadi Kunci

Indonesia dan Filipina memperkuat kerja sama untuk membangun rantai pasok nikel ASEAN yang lebih stabil dan terintegrasi. Langkah ini ditempuh melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

Penandatanganan itu berlangsung dalam agenda Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Kamis (7/5/2026), dan disaksikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A Roque. Airlangga menyebut kerja sama tersebut sebagai fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor yang menghubungkan kekuatan hilirisasi Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina.

Koridor nikel untuk rantai nilai kawasan

Koridor ini dirancang sebagai platform terstruktur yang dapat memperkuat posisi kedua negara di pasar nikel regional maupun global. Indonesia membawa kapasitas pengolahan dan smelter yang besar, sedangkan Filipina menyediakan pasokan bijih nikel yang dapat masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi.

Dalam keterangannya, Airlangga menegaskan bahwa skema ini membuat Filipina tidak lagi hanya berperan sebagai eksportir bijih mentah. Di sisi lain, Indonesia memperoleh keamanan pasokan atau feedstock security untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat.

Kerja sama APNI dan PNIA tidak hanya berhenti pada perdagangan bahan baku. Ruang lingkup MoU juga mencakup pertukaran informasi untuk membantu stabilisasi perdagangan nikel di tingkat regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi, pemanfaatan nilai tambah dari side product industri pengolahan, serta penguatan sumber daya manusia bersama.

Hilirisasi Indonesia dan kebutuhan pasokan stabil

Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang besar. Airlangga menyampaikan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$ 9,73 miliar pada 2025, sementara pemerintah menargetkan investasi hingga US$ 47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja pada 2030.

Di saat yang sama, sejumlah smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium atau Si:Mg tertentu. Kebutuhan itu dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending, sehingga pasokan untuk industri tetap terjaga.

Penguatan pasokan ini dinilai penting karena nikel memegang peran besar dalam transisi energi. Produk turunannya dapat mendukung strategi ketahanan energi nasional dan kawasan melalui energy storage, baik untuk baterai kendaraan listrik maupun baterai penyimpanan energi panel surya.

Sejalan dengan arah ASEAN

Airlangga juga menyebut kerja sama ini selaras dengan arahan KTT ASEAN Economic Community Council ke-27 yang menekankan penguatan rantai pasok kritis di kawasan ASEAN. Dalam kerangka itu, nikel dipandang sebagai mineral strategis yang tidak hanya terkait industri, tetapi juga energi bersih dan keberlanjutan.

Pemerintah Indonesia ikut mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK diposisikan sebagai pusat investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, dan inovasi teknologi hilirisasi berstandar internasional.

Secara statistik, posisi Indonesia dan Filipina dalam industri nikel global memang sangat dominan. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, kedua negara menguasai 73,6% produksi nikel dunia pada 2025, dengan Indonesia menyumbang sekitar 66,7% atau 2,6 juta ton dan Filipina 6,9% atau 270.000 ton.

Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki sekitar 44,5% cadangan nikel dunia atau 62 juta ton. Filipina menyusul dengan 3,4% atau sekitar 4,8 juta ton, sehingga kombinasi keduanya memberi bobot besar dalam rantai pasok mineral kritis di kawasan.

Hubungan dagang yang terus menguat

Kerja sama nikel ini juga datang di tengah hubungan dagang Indonesia dan Filipina yang terus meningkat. Sepanjang 2025, total ekspor Indonesia ke Filipina mencapai US$ 10,22 miliar atau setara 8,4% dari total impor Filipina.

Posisi itu membuat Indonesia menjadi mitra dagang terbesar ketiga Filipina setelah China dan Jepang. Dalam konteks yang lebih luas, Filipina dinilai sebagai mitra dagang strategis bagi Indonesia di Asia Tenggara, terutama untuk sektor energi dan produk otomotif.

Dengan potensi produksi, cadangan, dan pasar yang sama-sama besar, koridor nikel antara Indonesia dan Filipina kini menjadi salah satu upaya paling menonjol untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis ASEAN. Kerja sama ini menempatkan hilirisasi, keamanan pasokan, dan pengembangan teknologi sebagai satu kesatuan yang saling menopang.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button