Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mulai meningkatkan kewaspadaan atas tekanan ganda yang datang dari pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak dunia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kemudian menggelar rapat darurat bersama jajaran menteri terkait untuk membahas dampaknya terhadap subsidi BBM dan kemungkinan perubahan harga bahan bakar di dalam negeri.
Langkah itu muncul setelah rupiah sempat menyentuh posisi terendah di Rp17.540 per dolar AS. Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas USD 100 per barel, sehingga beban fiskal pemerintah ikut tertekan.
Rapat tingkat menteri untuk antisipasi tekanan kurs
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengonfirmasi bahwa pembahasan lintas kementerian sedang berjalan. Ia menyebut rapat itu digelar untuk memitigasi dampak nilai tukar rupiah terhadap sektor energi dan anggaran subsidi.
“Ini kebetulan Pak Menteri sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya, jadi kita tunggu saja,” ujar Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Pemerintah menilai tekanan pada kurs bisa langsung memengaruhi biaya impor energi dan kebutuhan subsidi. Karena itu, pembahasan difokuskan pada langkah antisipatif sebelum beban anggaran semakin besar.
Rupiah menembus level terendah
Kondisi pasar valuta asing menjadi salah satu perhatian utama karena rupiah sempat mencetak rekor terendah di Rp17.540 per dolar AS pada Selasa (12/5). Pada Rabu pagi, rupiah bergerak tipis ke Rp17.493 per dolar AS, tetapi level itu masih menunjukkan tekanan yang kuat.
Pergerakan rupiah ini membuat biaya yang berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pemerintah. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan subsidi BBM berisiko ikut meningkat karena harga keekonomian energi ikut terdorong naik.
Minyak dunia jauh di atas asumsi APBN
Selain kurs, harga minyak internasional juga belum menunjukkan pelemahan yang berarti. Brent tercatat di level USD 106,95 per barel dan WTI berada di USD 101,52 per barel.
Angka tersebut jauh di atas asumsi makro APBN 2026 yang menetapkan harga minyak di level USD 70 per barel. Selisih yang lebar ini memperbesar tantangan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.
Harga BBM masih dipantau
Laode menyampaikan bahwa pemerintah belum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga BBM. Pemerintah masih memantau perkembangan kurs rupiah dan harga minyak dunia sebelum menentukan langkah lanjutan.
“Itu masih kan belum ada info-info lain lagi kan, selain yang ada sekarang (harga BBM tidak naik), jadi kita lihat perkembangan berikutnya saja nanti,” ujarnya.
Dalam situasi ini, pemerintah berupaya menjaga agar gejolak eksternal tidak langsung memukul harga BBM dan anggaran subsidi. Namun, rapat darurat yang digelar Bahlil menunjukkan bahwa tekanan dari pelemahan rupiah dan mahalnya minyak dunia sudah masuk kategori serius bagi kebijakan energi nasional.
Source: www.suara.com






