Limbah kulit apel dan tempurung kelapa hitam menjadi dasar inovasi energi yang membawa dua siswa SMA Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) Bogor meraih medali perak di Genius Olympiad 2026. Prestasi itu diraih melalui riset sel surya ramah lingkungan yang dipresentasikan di Houston, Amerika Serikat.
Tim lain dari sekolah yang sama juga menembus jajaran finalis lewat solusi pengolahan limbah cair rumah potong ayam. Dua capaian tersebut menunjukkan riset siswa sekolah menengah dapat menjawab persoalan lingkungan dengan pendekatan yang berbeda.
Dua Riset Hijau dari Bogor
Kompetisi Genius Olympiad berlangsung pada 8-12 Juni 2026 dan mempertemukan pelajar SMA dari berbagai negara. Ajang yang didirikan Terra Science and Education serta diselenggarakan oleh St. John Fisher University itu berfokus pada keberlanjutan lingkungan, inovasi, dan tantangan global.
| Tim | Topik Riset | Kategori dan Hasil |
|---|---|---|
| Nadhim Muhammad Sulthan Shabir dan Valkean Ikram Permana | Sel surya DSSC dari tempurung kelapa hitam dan pigmen kulit apel | Resources and Energy, medali perak |
| Emir Maulana Musthofa dan Arvin Rayyan Ihsani | Bioremediasi limbah cair rumah potong ayam dengan mikroalga dan bakteri | Ecology and Biodiversity, Finalist |
Nadhim dan Valkean mengembangkan Dye-Sensitized Solar Cell atau DSSC dengan memanfaatkan dua jenis limbah domestik. Tempurung kelapa hitam digunakan sebagai material alternatif, sedangkan pigmen antosianin dari kulit apel menjadi bagian dari inovasi sel surya tersebut.
Riset mereka berjudul “Eco-friendly Solar Cell Fabrication Based on Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) from Black Coconut Shell and Anthocyanin Pigment from Apple Peel”. Proyek ini kemudian mengantarkan keduanya meraih perak pada kategori Resources and Energy.
Sementara itu, Emir dan Arvin meneliti integrasi Chlorella sp. dan Bacillus subtilis untuk mengolah limbah cair rumah potong ayam. Penelitian berjudul “Integration of Chlorella sp. Bacillus subtilis as a Bioremediation Technology for Chicken Slaughterhouse Liquid Waste” itu menawarkan pendekatan bioremediasi yang lebih ramah lingkungan.
Menurut laporan www.kompas.com, Genius Olympiad mencakup delapan bidang keilmuan. Setiap proyek melewati penilaian awal oleh tiga hingga enam penelaah sebelum memasuki babak final dengan empat hingga 10 juri internasional.
Penilaian tidak hanya melihat hasil riset, tetapi juga ketelitian ilmiah, metodologi, presentasi, dan kemampuan peserta menjawab pertanyaan. Sistem normalisasi skor digunakan agar penilaian tetap adil meski proyek dinilai oleh juri dengan karakteristik berbeda.
Latihan Presentasi Menjadi Penentu
Nadhim mengatakan persiapan presentasi menjadi salah satu kunci saat menghadapi penjurian. “Kami berlatih berkali-kali sebelum sesi penjurian. Kami membagi setiap bagian presentasi, memprediksi berbagai pertanyaan yang mungkin diajukan juri, lalu berlatih menjawabnya,” ungkapnya.
Valkean menambahkan bahwa timnya berusaha menjawab pertanyaan dengan tenang berdasarkan latihan tersebut. Keduanya sempat gugup karena ini menjadi pengalaman pertama mengikuti kompetisi internasional di luar negeri, tetapi juri yang komunikatif membantu mereka memaparkan riset dengan lebih percaya diri.
Emir dan Arvin juga mengalami kegugupan pada awal sesi. Namun, mereka menyebut rasa percaya diri meningkat setelah menjelaskan penelitian dan menjawab pertanyaan juri dengan argumentasi ilmiah.
Budaya Riset Sejak Sekolah Menengah
Direktur Pendidikan Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Ari Rosandi, menilai hasil itu memperlihatkan kemampuan pelajar Indonesia bersaing melalui riset yang relevan dengan tantangan global. Ia menekankan bahwa nilai penting dari capaian tersebut bukan hanya medali, melainkan kemampuan siswa berpikir kritis, menjalankan penelitian ilmiah, dan mempertahankan hasilnya di hadapan juri internasional.
Kepala SMA Sandra Susanto menyebut penghargaan di Houston sebagai awal perjalanan panjang bagi para ilmuwan muda. Ia berharap keempat siswa itu terus berkarya dan kelak memberi kontribusi nyata bagi bangsa maupun dunia.
CRIBS membangun pembinaan riset melalui pembelajaran berbasis proyek, penguatan literasi sains, serta pembinaan olimpiade dan riset secara berkelanjutan. Sebagai Sekolah Garuda Transformasi, sekolah tersebut mendorong siswanya memiliki daya saing global, kemampuan berpikir kritis, dan karakter kuat untuk menjawab tantangan abad ke-21.
Keberhasilan dua tim ini menempatkan persoalan lingkungan sebagai ruang belajar yang nyata bagi siswa. Inovasi dari kulit apel, tempurung kelapa, mikroalga, dan bakteri memperlihatkan bahwa gagasan ilmiah dapat tumbuh dari bahan serta masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.







