Harga bensin di sejumlah pasar dunia masih berpotensi bertahan tinggi meski konflik Iran mulai mereda. Analis menilai, gangguan di Selat Hormuz membuat pemulihan harga minyak dan BBM tidak bisa berlangsung cepat karena jalur distribusi energi global belum pulih sepenuhnya.
Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Saat jalur ini terganggu, harga minyak dunia melonjak dan dampaknya langsung terasa pada harga bensin di berbagai negara.
Pemulihan tidak terjadi seketika
Data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat berada di level US$4,54 per galon, atau sekitar Rp77.180 per galon dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS. Angka itu masih jauh di atas harga sebelum konflik, ketika bensin berada di bawah US$3 per galon atau kurang dari sekitar Rp51.000 per galon.
Kepala analisis perminyakan GasBuddy, Patrick De Haan, mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz memang dapat memberi ruang penurunan harga dalam waktu dekat. Namun ia menilai proses kembali normal akan memakan waktu panjang karena pemulihan distribusi dari Timur Tengah belum selesai.
De Haan memperkirakan sepertiga pertama penurunan harga bisa terjadi dalam satu hingga tiga bulan. Setelah itu, sepertiga berikutnya dapat memerlukan waktu tiga hingga enam bulan sebelum harga mendekati level sebelum perang.
Ia bahkan menyebut harga kemungkinan baru kembali ke level sebelum perang pada awal hingga pertengahan 2027. Proyeksi itu menunjukkan dampak konflik terhadap pasar energi tidak berhenti saat ketegangan mereda.
Distribusi minyak masih jadi hambatan utama
Menurut De Haan, pemulihan juga terkendala karena produksi minyak mentah dari negara-negara Teluk Persia belum sepenuhnya kembali normal. Saat ekspor terganggu, produsen biasanya menahan atau mengurangi produksi sehingga pemulihan suplai butuh waktu tambahan.
Analis bahan bakar S&P Global Energy, Rob Smith, menilai lalu lintas pengiriman energi di Selat Hormuz tidak akan langsung kembali normal. Ia menyebut bahkan jika konflik militer benar-benar berakhir secara permanen, pasar tetap membutuhkan beberapa bulan sebelum arus pengiriman kembali ke tingkat sebelum perang.
Rystad Energy juga memberi pandangan serupa dengan menilai pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap selama 30 hari saja sudah termasuk skenario optimistis. Perusahaan itu memperkirakan volume pengiriman minyak baru mulai terlihat pulih paling cepat pada Juni 2026.
Harga BBM turun lebih lambat dari harga minyak
Meski harga minyak dunia mulai melemah, harga BBM di SPBU tidak selalu ikut turun dengan kecepatan yang sama. Penyebabnya, stok yang dijual ke konsumen biasanya dibeli saat harga minyak masih tinggi.
Pola itu dikenal sebagai “rocket and feathers”, yaitu harga BBM naik cepat ketika harga minyak melonjak, tetapi turun perlahan saat harga minyak melemah. Mekanisme ini membuat konsumen sering merasakan penurunan harga dengan jeda yang lebih panjang.
Faktor psikologis pasar juga masih menahan penurunan. Investor dan pelaku industri belum sepenuhnya yakin gangguan di Selat Hormuz tidak akan terulang.
Risiko gangguan baru masih membayangi
Analis Eurasia Group, Gregory Brew, menilai Iran kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat setelah menunjukkan kemampuan mengganggu jalur perdagangan energi global. Ia mengatakan Iran kini bisa secara kredibel mengancam penutupan Selat Hormuz di masa depan.
Brew juga menilai kemampuan militer Iran memang melemah, tetapi belum sepenuhnya hancur. Karena itu, pasar tetap memperhitungkan kemungkinan gangguan lanjutan terhadap arus minyak dunia.
S&P Global Energy memperkirakan harga bensin di Amerika Serikat kemungkinan masih berada di atas level sebelum perang hingga akhir tahun ini. Selama distribusi energi belum benar-benar stabil, tekanan terhadap harga BBM masih akan terasa meski konflik tidak lagi memanas.
Source: www.viva.co.id






