PLTU Adipala di Cilacap, Jawa Tengah, memperluas pemanfaatan cofiring biomassa untuk mendukung transisi energi dan menekan emisi karbon. Pembangkit milik PLN Indonesia Power UBP Adipala itu mencampurkan batu bara dengan biomassa dalam proses pembangkitan listrik agar operasional tetap berjalan sambil mengurangi dampak lingkungan.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa pembangkit eksisting masih bisa beradaptasi dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan tanpa perlu mengganti seluruh infrastruktur. Pada tahap awal penerapan komersial sejak 2023, PLTU Adipala memanfaatkan serbuk kayu atau sawdust dan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) sebagai bahan bakar biomassa.
Pemanfaatan biomassa terus meningkat
Realisasi penggunaan biomassa di PLTU Adipala tercatat melampaui 107,35 persen dari target tahunan. Capaian itu menandakan sistem cofiring semakin stabil dan operasional pembangkit berjalan lebih optimal.
Peningkatan tersebut didukung penguatan kemitraan dengan pemasok biomassa dari berbagai daerah. PLN Indonesia Power UBP Adipala juga melibatkan masyarakat lewat pengolahan limbah kayu dan pengembangan Hutan Tanaman Energi.
Sumber bahan bakar makin beragam
Selain sawdust dan woodchip, PLTU Adipala kini memanfaatkan limbah pertanian serta bahan bakar berbasis sampah atau BBJP. Pasokan biomassa juga diperkuat melalui jaringan suplai yang terus diperluas di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Diversifikasi sumber bahan bakar ini penting untuk menjaga kontinuitas pasokan. Dengan begitu, cofiring tidak bergantung pada satu jenis biomassa saja dan dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku di lapangan.
Hutan Tanaman Energi jadi penopang jangka panjang
Untuk menjaga pasokan biomassa secara berkelanjutan, PLN Indonesia Power UBP Adipala mengembangkan Hutan Tanaman Energi seluas lebih dari 100 hektare. Kawasan ini diproyeksikan menjadi sumber bahan baku biomassa jangka panjang sekaligus mengoptimalkan lahan kurang produktif.
Pendekatan tersebut memberi ruang bagi pengembangan energi yang lebih terencana. Di saat yang sama, pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum optimal bisa diarahkan untuk mendukung kebutuhan pembangkit.
Kualitas biomassa dijaga agar pembakaran lebih efisien
Dari sisi teknis, biomassa yang digunakan juga melalui proses pengeringan untuk menurunkan kadar air. Langkah ini penting agar bahan bakar menghasilkan panas yang lebih stabil saat dibakar.
Kualitas bahan bakar yang lebih baik membantu menjaga efisiensi pembangkit. Dengan pasokan yang stabil dan karakter biomassa yang sesuai, proses cofiring dapat berjalan lebih konsisten.
Dukungan pada pengurangan emisi dan peluang karbon
Penerapan cofiring memberi dampak pada penurunan emisi karbon dari operasional pembangkit. Program ini juga membuka peluang bagi UBP Adipala untuk masuk ke skema perdagangan karbon melalui pengurangan emisi yang telah terverifikasi.
Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Adipala, I Wayan Arimbawa, menegaskan bahwa cofiring menjadi solusi transisi yang realistis karena memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada. Ia menyebut pendekatan itu lebih ramah lingkungan dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat.
“Cofiring menjadi salah satu solusi transisi yang realistis karena memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang sudah ada, namun dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Ke depan, pengembangan cofiring di PLTU Adipala akan difokuskan pada peningkatan pemanfaatan biomassa, penguatan rantai pasok, inovasi bahan bakar alternatif, serta kontribusi terhadap target dekarbonisasi nasional. Upaya itu menempatkan PLTU Adipala sebagai salah satu contoh pembangkit yang mencoba menyeimbangkan kebutuhan energi dengan agenda pengurangan emisi.
Source: mediaindonesia.com






