Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000, Tekanan Dollar AS Dan Defisit Fiskal Menguat

Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan besar dan pasar kini mencermati kemungkinan pelemahan hingga menyentuh Rp 18.000 per dollar AS pada pekan depan. Tekanan itu muncul saat dollar AS masih diperkirakan bertahan kuat di atas level 100 pada pekan terakhir Mei 2026.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih dibayangi penguatan dollar AS di pasar global. Ia bahkan menyebut ada peluang besar rupiah bergerak ke level Rp 18.000 per dollar AS pada pekan depan.

Dollar AS Masih Jadi Pemicu Utama

Ibrahim memperkirakan indeks dollar AS pada periode 25-29 Mei 2026 bergerak dalam rentang support 97,600 dan resistance 101,00. Menurut dia, area itu menunjukkan tren penguatan dollar masih berlanjut.

Penguatan dollar AS mendorong aliran modal asing keluar dari negara berkembang menuju aset berbasis dollar yang dianggap lebih aman. Dalam kondisi itu, rupiah mendapat tekanan dan pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026) sudah terdepresiasi 50 poin atau 0,28 persen ke level Rp 17.717 per dollar AS.

Sorotan Juga Datang dari Dalam Negeri

Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti respons terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Menurut Ibrahim, pembahasan itu ikut dibaca oleh lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings.

S&P Global Ratings menilai pembentukan badan ekspor komoditas satu pintu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk batu bara, CPO, dan fero alloy berpotensi menekan ekspor, mengurangi penerimaan pemerintah, serta meningkatkan ketidakpastian prospek peringkat kredit Indonesia. Ibrahim menyebut kemungkinan penurunan rating Indonesia tetap terbuka jika risiko fiskal membesar.

Defisit Fiskal dan Target Ekonomi Jadi Perhatian

Ibrahim menambahkan bahwa pelebaran defisit fiskal yang mendekati 3 persen menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran itu. Ia juga menilai target pertumbuhan ekonomi nasional 5,8 persen hingga 6 persen terlalu optimistis di tengah kondisi global yang belum kondusif.

Menurut dia, proyeksi ekonomi global yang lemah dapat berlanjut sampai 2027, meski pertumbuhan kuartal I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen. Situasi ini membuat pasar cenderung berhati-hati membaca arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Upaya Stabilitas Belum Cukup Mengangkat Rupiah

Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan telah berupaya menjaga stabilitas pasar melalui berbagai langkah. Salah satu yang dilakukan adalah operasi pasar dengan menjual surat utang negara senilai Rp 2 triliun hingga Rp 4 triliun.

Namun, Ibrahim menilai langkah itu belum cukup memberi penguatan signifikan pada rupiah. Ia menyebut berbagai jurus stabilisasi sudah ditempuh, tetapi tekanan pasar masih sulit diredam.

Risiko Global Masih Membayangi

Sentimen negatif lain datang dari ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz, terutama terkait negosiasi perdamaian Amerika Serikat dan Iran yang masih terhambat isu nuklir. Kondisi itu ikut menambah kekhawatiran pasar terhadap harga minyak dunia.

Di sisi lain, Ibrahim menyebut ada potensi The Fed menaikkan suku bunga hingga 50 basis points apabila kenaikan harga minyak terus berlanjut. Kombinasi faktor eksternal dan internal ini membuat rupiah tetap berada dalam posisi rapuh saat pasar menunggu arah berikutnya dari dollar AS dan kebijakan global.

Exit mobile version