Pertamax Naik Tajam, DPR Kaji Stimulus untuk Redam Tekanan Daya Beli

Pertamina menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan ini memicu perhatian DPR karena pemerintah disebut tengah menyiapkan stimulus untuk meredam dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi hampir selalu berpengaruh pada inflasi, meski besaran dampaknya belum dihitung secara pasti. Ia mengatakan pemerintah dan DPR sedang mengkaji bentuk insentif yang paling tepat bagi kelompok masyarakat yang terdampak.

Dampak ke inflasi masih dihitung

Misbakhun menegaskan kenaikan BBM umumnya ikut mendorong inflasi, tetapi efek dari Pertamax dinilai berbeda dengan BBM untuk industri. Menurut dia, Pertamax lebih banyak dipakai oleh pemilik kendaraan pribadi sehingga tekanannya tidak sebesar BBM yang digunakan untuk kegiatan produksi, angkutan umum, atau distribusi barang.

Ia juga menilai ada kemungkinan sebagian konsumen beralih ke Pertalite saat harga Pertamax naik. Perpindahan itu dinilai wajar karena masyarakat cenderung mencari bahan bakar dengan harga yang lebih rendah ketika terjadi penyesuaian harga.

“Pasti, orang kan begitu harga naik, orang akan mencari harga yang paling rendah,” ujar Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Stimulus masih dirumuskan

DPR bersama pemerintah disebut sudah membahas perlunya stimulus untuk meredam dampak kenaikan harga Pertamax. Namun, bentuk bantuan itu belum diputuskan karena pemerintah masih menghitung efek lanjutan dari penyesuaian harga tersebut.

Misbakhun mengatakan penghitungan detail masih dilakukan untuk melihat sejauh mana perpindahan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Hasil kajian itu akan menjadi dasar dalam menentukan apakah stimulus perlu diberikan dalam bentuk insentif sektor tertentu atau skema lain yang lebih tepat sasaran.

“Sudah didiskusikan, sedang lagi dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor,” kata Misbakhun. Ia menambahkan, pengguna Pertamax dinilai berada berdekatan dengan kelompok pengguna Pertalite sehingga kebutuhan stimulus perlu dikaji secara cermat.

Harga BBM nonsubsidi ikut disesuaikan

PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga Pertamax RON 92 menjadi Rp 16.250 per liter. Harga Pertamax Green 95 juga naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan penyesuaian BBM nonsubsidi dilakukan setelah evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Di sisi lain, harga BBM bersubsidi tetap tidak berubah, dengan Pertalite masih Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.

Anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 ditetapkan sebesar Rp 381,3 triliun untuk BBM, LPG 3 kg, dan listrik. Besaran anggaran itu menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan dampak penyesuaian harga BBM terhadap masyarakat dan kebijakan perlindungan daya beli ke depan.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version