Dari Resep Keluarga 1970 Ke Kuala Lumpur, Inna Sri Sugiati Ubah Asinan Jadi Fermentasi Global

Di tengah gempuran kuliner modern, Inna Sri Sugiati justru membawa asinan fermentasi keluarga naik kelas. Produk yang ia kembangkan di bawah jenama Niekting itu kini bukan hanya bertahan di pasar, tetapi juga berhasil menembus Kuala Lumpur, Malaysia.

Kisah bisnis ini berangkat dari warisan keluarga yang panjang. Aroma cuka, cabai, dan potongan buah serta sayur sudah akrab di masa kecil Inna karena sang ibu, Tien Hamsini, sudah merintis usaha asinan sejak 1970.

Inna kemudian melanjutkan usaha itu pada 2019 setelah mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia keluar dari pekerjaan kantoran pada 1998 untuk merawat ayahnya yang terkena stroke, lalu sempat menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga sebelum menemukan kembali jalan berwirausaha.

Dari resep rumah ke produk inovatif

Asinan keluarga ini sempat punya masa kejayaan yang cukup kuat. Produk racikan sang ibu pernah dinikmati bukan hanya oleh tetangga dan kerabat, tetapi juga ekspatriat, bahkan sempat disajikan di kantin Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Namun, usaha itu sempat mati suri pada 1990 karena keterbatasan sumber daya manusia. Resepnya tersimpan hampir tiga dekade sebelum Inna memutuskan menghidupkannya kembali dan memberi sentuhan baru.

Inna tidak ingin sekadar mengulang resep lama. Ia mengembangkan asinan itu menjadi produk berbasis fermentasi dengan formula yang lebih terukur agar memiliki cita rasa, daya simpan, dan manfaat yang lebih baik.

Proses inovasi ini juga dipengaruhi latar belakang keluarganya. Sang ayah merupakan lulusan teknik kimia Universitas Gadjah Mada, sementara Inna pernah menempuh pendidikan sekolah asisten apoteker.

Komposisi asinan fermentasi Niekting terdiri dari bengkoang, mentimun, kol, dan sawi asin dengan bumbu kacang. Fermentasi dilakukan melalui perendaman bahan baku dan sayuran selama dua hingga tiga hari, sehingga menghasilkan bakteri baik yang dibutuhkan untuk pencernaan.

Tumbuh di tengah pandemi

Niekting resmi diluncurkan ke pasar pada Oktober 2020. Meski berada di tengah pandemi COVID-19, Inna mampu memproduksi sekitar 1.000 pcs per bulan untuk dipasarkan ke wilayah Jabodetabek.

Untuk menjaga ritme produksi, ia melibatkan lima pekerja utama yang bekerja secara fleksibel sesuai kebutuhan. Model kerja per batch dipakai agar usaha tetap berjalan dan pekerja dengan tanggung jawab lain tetap bisa terlibat.

Inna juga terus memperbaiki sistem pengemasan agar produknya aman saat dikirim. Setelah sempat memakai styrofoam pada awal usaha, kini Niekting menggunakan thin wall dan standing pouch yang bisa bertahan lebih dari dua bulan.

Dari ruang penyimpanan bersuhu 4-7 derajat celsius, asinan itu disebut mampu bertahan di perjalanan hingga tiga hari sampai diterima pelanggan. Kondisi ini jauh berbeda dari masa usaha sang ibu yang masih mengandalkan rantang untuk pengiriman jarak dekat.

Naik kelas lewat pendampingan

Perkembangan Niekting ikut didorong oleh pembinaan Rumah BUMN BRI. Inna tertarik bergabung setelah melihat informasi pelatihan di media sosial dan mendatangi langsung Rumah BUMN BRI di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat.

Di sana, ia mendapat pendampingan berjenjang yang mencakup perbaikan konten, pengaturan keuangan, dan fasilitasi foto produk. Ia juga dibekali ilmu produktivitas, manajemen usaha saat lonjakan permintaan, proses produksi, hingga pengemasan.

Bagi Inna, perubahan paling besar datang dari cara pandang terhadap usaha. Ia menilai pendampingan itu membuatnya berpikir seperti entrepreneur, bukan sekadar penjual yang berpindah dari bazar ke bazar.

Pemasaran Niekting juga meluas lewat integrasi ke ekosistem digital BUMN melalui PaDi UMKM. Platform B2B itu membuka peluang pemesanan langsung dari kantor perusahaan BUMN untuk kebutuhan korporat.

Jejak produk ini makin terlihat setelah ikut bazar di Sarinah Thamrin Jakarta dan KTT ASEAN 2023. Berkat kurasi dan fasilitasi Rumah BUMN BRI, asinan fermentasi Niekting juga berhasil masuk pasar Kuala Lumpur, Malaysia.

Bisnis yang juga memikirkan limbah

Di luar pertumbuhan penjualan, Inna menaruh perhatian besar pada aspek lingkungan. Niekting memisahkan limbah organik sisa produksi, termasuk kulit bengkoang, bonggol kol, dan minyak jelantah dari penggorengan bumbu kacang.

Ia lalu berkolaborasi dengan Arnetta Craft, komunitas pengolahan limbah asal Jakarta Timur yang dipimpin Chevie Mawarti. Dari kerja sama itu, sisa produksi diolah menjadi eco-enzyme, karbol, sabun lerak, hingga lilin.

Produk olahan limbah tersebut juga memiliki nilai ekonomi tersendiri. Beberapa perusahaan BUMN rutin menyerapnya dalam jumlah besar untuk goodie bag atau hampers korporat, sehingga rantai usaha Niekting berkembang melampaui produk asinan saja.

Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, mengatakan pembinaan diberikan secara gratis untuk membantu UMKM dari awal sampai naik kelas. Ia menyebut, peserta baru akan diarahkan mengisi penilaian di Link UMKM untuk memetakan kekuatan dan kelemahan usaha sebelum masuk pelatihan lanjutan.

Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman menaungi sekitar 11.000 UMKM. Sekitar 6.000 di antaranya aktif mengikuti berbagai program pelatihan, dengan tahapan pengembangan yang mencakup Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global.

Berita Terkait

Back to top button