Pandemi COVID-19 sempat memaksa banyak pelaku usaha kecil mencari jalan baru untuk bertahan. Bagi Jo Viviani Sanita, situasi itu justru menjadi titik balik yang melahirkan ShanJay Cook, jenama bumbu masakan instan khas Aceh yang kini berkembang lewat binaan BRI.
Vivi tidak datang dari latar belakang usaha kuliner. Ia sebelumnya berjualan tas anak, tetapi usaha itu merosot saat sekolah libur dan aktivitas anak-anak berhenti, sehingga pasar utamanya ikut melemah.
Dari kondisi itu, Vivi memilih beralih ke makanan yang dinilainya lebih luas pasarnya. Pilihan itu juga dipengaruhi kecintaan suaminya pada masakan khas Aceh dari Kota Sigli, Provinsi Aceh.
Berawal dari dapur keluarga
Pada masa awal, Vivi dan keluarga mengandalkan kiriman bumbu instan dari Aceh. Rasa penasaran membuat mereka datang ke rumah saudara untuk belajar langsung meracik bumbu Aceh yang asli.
Meski bukan orang yang gemar memasak, Vivi terus mencoba hingga mampu menyusun resep sendiri. Dari proses itu lahir menu seperti Mie Goreng Aceh, Mie Gulai Aceh, dan Mie Kocok Aceh.
Nama ShanJay sendiri diambil dari gabungan nama dua anak Vivi, Shania dan Jayson. Identitas keluarga itu kemudian menjadi ciri utama usaha yang ia bangun dari rumah.
Dari pre-order ke rak toko
Pemasaran awal ShanJay Cook berjalan lewat lingkaran terdekat. Vivi memanfaatkan grup WhatsApp, keluarga, saudara, dan grup orang tua sekolah untuk menawarkan produknya, lalu membuka sistem pre-order pada 2021.
Saat pandemi mulai mereda dan suaminya kembali sibuk bekerja, Vivi menghadapi tantangan baru. Ia lalu mengubah produk agar lebih praktis dengan mengemas bumbu instan siap masak.
Pada fase awal, produk harus disimpan di kulkas dan freezer agar tidak cepat rusak. Untuk pengiriman ke luar kota, produk bahkan harus dibekukan terlebih dahulu.
Vivi kemudian mengadopsi teknologi sterilisasi retort pada kemasan. Teknologi ini membuat produk bumbunya mampu bertahan hingga satu tahun tanpa bahan pengawet karena bakteri perusak dapat dimatikan.
Binaan BRI memperluas skala usaha
Langkah akselerasi bisnis datang ketika Vivi bergabung sebagai mitra binaan Rumah BUMN BRI pada tahun 2025. Dari sana, ia mengikuti berbagai pelatihan yang menurutnya berlangsung intensif, terutama pada topik branding.
Vivi juga memanfaatkan pelatihan untuk mengenal penggunaan artificial intelligence atau AI. Teknologi itu ia pakai sebagai sarana promosi digital dan pembuatan konten media sosial.
Pendampingan tersebut membantu perubahan besar dalam pola penjualan ShanJay Cook. Dari sistem pre-order, usaha ini bergeser ke produksi skala besar yang siap kirim dan mulai masuk ke rak supermarket lokal lewat skema konsinyasi.
Salah satu lokasi yang ia coba adalah supermarket dekat rumah di kawasan Pasar Laris. Menurut Vivi, warga perumahan di sekitar area itu cenderung mencari bumbu instan yang praktis dan cocok dengan produknya.
Omzet tumbuh, pasar dibidik lebih luas
Strategi promosi lewat story WhatsApp juga ikut mengangkat penjualan. Vivi menyebut cara itu cepat menjangkau pelanggan baru karena orang yang semula tidak tahu produknya bisa langsung tertarik setelah melihat promosi.
Modal awal usaha yang sekitar Rp 10 juta kini berkembang menjadi bisnis dengan omzet sekitar Rp 15 juta per bulan. Pendapatan itu ditopang penjualan di toko ritel dan layanan katering yang ia kelola.
ShanJay menyediakan dua ukuran produk untuk konsumen. Kemasan kecil dijual Rp 30.000 dan ukuran besar Rp 40.000, sementara di Pasar Laris Taman Surya harganya berada di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 45.000.
Di tahap berikutnya, Vivi menargetkan ekspansi ke luar daerah. Fokus utamanya adalah memperkuat branding agar produknya lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Peran Rumah BUMN BRI
Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, mengatakan lembaga itu menjadi wadah pemberdayaan gratis bagi pelaku usaha lokal. Program yang disiapkan tidak hanya pelatihan, tetapi juga pendampingan legalitas dan kebutuhan lain untuk membantu UMKM tumbuh.
Setiap UMKM yang bergabung akan melalui penilaian awal melalui platform Link UMKM. Hasil pemetaan itu dipakai untuk menentukan tiga aspek terkuat dan tiga aspek terlemah dari usaha yang didaftarkan.
Dari hasil tersebut, peserta diarahkan mengikuti pelatihan yang sesuai kebutuhan. Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman tercatat menaungi sekitar 11.000 UMKM, dengan 6.000 di antaranya aktif mengikuti program pemberdayaan dan pelatihan terstruktur.







