PT Waskita Karya (Persero) Tbk kembali menegaskan posisinya di pasar konstruksi internasional lewat proyek renovasi area mataf di Masjidil Haram, Mekah. Area pelataran yang mengelilingi Ka’bah itu menjadi salah satu titik paling vital bagi jutaan jemaah haji dan umrah.
Proyek ini masuk dalam program perluasan King Abdullah Makkah Extension (KAME) yang dimulai pada 2013. Dengan nilai kontrak 59 juta riyal Saudi, pengerjaan difokuskan untuk memperbesar kapasitas dan memperlancar arus ibadah di kawasan suci tersebut.
Ruang ibadah yang jauh lebih lega
Area mataf memegang peran sentral karena menjadi lokasi utama tawaf. Seiring terus meningkatnya jumlah kunjungan umat Islam, perluasan ruang ini menjadi kebutuhan yang sangat penting.
Setelah direnovasi, kapasitas mataf naik tajam dari sekitar 48 ribu jemaah menjadi lebih dari 105 ribu jemaah sekaligus. Perubahan ini memberi ruang gerak yang lebih besar bagi jemaah yang memadati Masjidil Haram sepanjang tahun.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, mengatakan proyek tersebut bukan hanya pencapaian konstruksi. Ia menyebut pengerjaan itu sebagai kontribusi nyata Indonesia dalam memperkuat fasilitas ibadah umat Islam di seluruh dunia.
Dampak langsung bagi jutaan jemaah
Renovasi mataf menghadirkan kenyamanan dan keamanan yang lebih baik bagi jemaah. Tata letak yang lebih lapang membantu pergerakan massa menjadi lebih tertib dan kondusif saat beribadah.
Masjidil Haram memang tidak pernah benar-benar sepi karena selalu dipenuhi jemaah umrah dan peziarah. Kehadiran infrastruktur pendukung yang memadai di sekitar Ka’bah menjadi faktor penting agar mobilisasi jutaan orang bisa berjalan lancar.
Momentum Tahun Baru Islam juga menambah perhatian pada kawasan ini. Pada malam 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 16 Juni 2026, jemaah berkesempatan menyaksikan prosesi penggantian kiswah Ka’bah.
Otoritas Arab Saudi telah menggeser jadwal penggantian kiswah dari 9 Dzulhijjah menjadi setiap 1 Muharram. Kebijakan itu diterapkan sebagai simbol penyambutan tahun baru dengan kondisi Ka’bah yang segar.
Jejak panjang Waskita di Arab Saudi
Keterlibatan Waskita di proyek mataf memperpanjang rekam jejak perseroan di Arab Saudi selama lebih dari sepuluh tahun. Perusahaan pelat merah ini sebelumnya menggarap King Saud University of Riyadh Techno Valley & Building Administration College di Riyadh pada 2009 dengan nilai kontrak 50 juta riyal Saudi.
Pada 2010 hingga 2012, Waskita juga terlibat dalam pembangunan King Abdullah Financial District (KAFD). Proyek tersebut mencakup struktur pencakar langit setinggi 31 lantai di distrik bisnis modern Arab Saudi.
Portofolio Waskita di negara itu juga mencakup King Saud Fitness College pada 2011 dengan nilai kontrak 16 juta riyal Saudi. Selain itu, perusahaan mengerjakan Jeddah Flyover untuk memperlancar konektivitas transportasi publik di kota pelabuhan tersebut.
Di sektor kesehatan, Waskita membangun King Faisal Specialist Hospital di Jeddah untuk mendukung layanan medis yang lebih modern. Rangkaian proyek itu menunjukkan kiprah perseroan yang tersebar di pendidikan, kesehatan, perhubungan, komersial, dan situs religi.
Modal untuk ekspansi lebih jauh
Ermy menilai pasar Arab Saudi masih menyimpan potensi besar bagi industri konstruksi global. Karena itu, wilayah tersebut masuk dalam daftar prioritas ekspansi internasional Waskita Karya.
Perusahaan juga telah mengantongi legalitas formal dan izin operasional resmi untuk menjalankan bisnis di Arab Saudi. Menurut Ermy, bekal itu memperkuat kesiapan Waskita untuk bersaing dan berkolaborasi dalam proyek konstruksi berkelas dunia.
Ia menegaskan bahwa kontribusi di kawasan suci menjadi cerminan kompetensi, kredibilitas, dan daya saing perseroan. Dengan portofolio yang mencakup gedung, fasilitas publik, konektivitas, transportasi udara, dan infrastruktur sumber daya air, Waskita menatap pasar internasional dengan optimisme tinggi.







