Surat utang Danantara mencatat permintaan yang jauh melampaui target awal, dengan kelebihan book building mencapai US$ 4,6 miliar dari target US$ 1 miliar. Kondisi itu mendorong Danantara menaikkan nilai penerbitan menjadi US$ 1,5 miliar dan membaginya ke dalam dua tenor, yakni lima tahun dan 10 tahun.
Komposisi investor juga menunjukkan pola yang berbeda dari penerbitan obligasi Indonesia pada umumnya. Jika biasanya investor Asia lebih dominan, kali ini minat terbesar justru datang dari Amerika Serikat, terutama pada tenor yang lebih panjang.
Dominasi investor AS di dua tenor
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut untuk tenor lima tahun, investor dari Amerika Serikat berkontribusi sekitar 38%, disusul Eropa dan Timur Tengah sebesar 41%, serta Asia 21%. Pada tenor 10 tahun, porsi Amerika Serikat bahkan naik menjadi 52%, sementara Eropa dan Timur Tengah 31% dan Asia 17%.
Perubahan komposisi itu menjadi sorotan karena menunjukkan minat kuat investor global terhadap instrumen yang diterbitkan Danantara. Rosan menilai pola ini berbeda dari kecenderungan sebelumnya, ketika obligasi Indonesia lebih sering didorong oleh permintaan dari kawasan Asia.
Sinyal kepercayaan pasar internasional
Tingginya permintaan tidak hanya membuat ukuran penerbitan diperbesar, tetapi juga memberi ruang bagi Danantara untuk menutup transaksi dengan hasil yang lebih baik dari perkiraan awal. Sebelum book building, kupon diperkirakan bisa berada di atas 6% bahkan 7% karena yield surat utang pemerintah saat itu berada di kisaran tersebut.
Namun, hasil akhir menunjukkan yield yang lebih rendah dari perkiraan awal. Untuk tenor lima tahun, Danantara memperoleh yield 5,35%, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 5,95%.
Rosan menyebut capaian itu sebagai bukti bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia masih tinggi dan nyata. Menurut dia, minat terhadap global bond Danantara tetap kuat meski pasar modal domestik sedang tertekan dan nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan.
Respons pasar yang tetap solid
Penerbitan ini memperlihatkan bahwa tekanan di pasar lokal tidak otomatis melemahkan minat investor asing terhadap surat utang Indonesia. Respons positif dari investor Amerika Serikat, Eropa dan Timur Tengah, serta Asia memperlihatkan bahwa Danantara mampu menarik perhatian lintas kawasan dalam satu transaksi.
Kondisi tersebut juga menegaskan bahwa pasar masih melihat obligasi Danantara sebagai instrumen yang layak dibeli, baik untuk tenor menengah maupun panjang. Dengan oversubscription yang besar dan yield yang lebih efisien, penerbitan ini menjadi salah satu indikator kuatnya kepercayaan pasar internasional terhadap aset utang Indonesia.
Source: www.beritasatu.com






