Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat industri asuransi umum membukukan premi Rp31,11 triliun pada kuartal I/2026. Angka itu tumbuh 1,92% secara tahunan dan belum memasukkan data satu perusahaan asuransi.
Peningkatan premi terjadi di tengah pergerakan yang tidak merata antarproduk. Sejumlah lini usaha mencatat kenaikan kuat, tetapi beberapa jenis asuransi lain masih tertekan secara tahunan.
Kenaikan terbesar datang dari asuransi kesehatan
Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis, Heri Supriyadi, menjelaskan bahwa kenaikan paling besar dari sisi nominal terjadi pada asuransi kesehatan. Pada Maret 2026, premi produk ini bertambah Rp867 miliar menjadi Rp4,63 triliun atau naik 23,0% YoY.
Asuransi properti juga memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan premi industri. Premi lini ini naik Rp509 miliar atau 6,5% YoY menjadi Rp8,31 triliun.
Kenaikan berikutnya datang dari kendaraan bermotor yang bertambah Rp152 miliar atau 2,9% YoY menjadi Rp5,39 triliun. Di sisi lain, marine hull naik Rp145 miliar atau 15,4% YoY menjadi Rp1,08 triliun, sedangkan asuransi kredit bertambah Rp128 miliar atau 3,2% YoY menjadi Rp4,10 triliun.
Lini usaha yang turun masih cukup beragam
AAUI juga mencatat beberapa produk mengalami penurunan premi. Marine cargo turun 12,6% YoY atau sekitar Rp216 miliar, sementara aviation melemah 15,2% YoY.
Penurunan lain terlihat pada satelit yang turun 18,5% YoY, energy off shore yang terkoreksi 51,5% YoY, dan engineering yang melemah 44,4% YoY. Liability ikut turun 2,1% atau Rp36 miliar, sedangkan personal accident turun 31,3% YoY.
Heri menegaskan bahwa secara persentase, energy on shore mencatat lonjakan tertinggi, yaitu 185,6%. Namun nilai premi lini tersebut masih relatif kecil, yakni Rp178 miliar atau naik sekitar Rp115 miliar.
Klaim tumbuh lebih cepat dari premi
Di sisi klaim, industri asuransi umum justru mencatat kenaikan yang lebih besar dibanding pertumbuhan premi. Klaim pada kuartal I/2026 mencapai Rp12,92 triliun, naik dari Rp10,97 triliun pada periode yang sama sebelumnya.
Kenaikan klaim paling besar berasal dari asuransi properti yang bertambah Rp679 miliar atau 34% YoY. Setelah itu, engineering naik Rp626 miliar dan asuransi kredit meningkat Rp610 miliar.
Rasio klaim industri asuransi umum pada kuartal I/2026 berada di level 41,5%. Angka ini lebih tinggi dibanding kuartal I/2025 yang tercatat 36,0%.
Beberapa lini menanggung rasio klaim paling tinggi
Dalam paparan AAUI, rasio klaim tertinggi tercatat pada energy off shore sebesar 148%. Engineering menyusul dengan 113%, lalu credit insurance sebesar 102%.
Data ini menunjukkan tekanan yang masih besar pada sejumlah lini usaha tertentu. Di sisi lain, industri juga masih menghadapi kebutuhan menjaga kualitas portofolio agar pertumbuhan premi tetap sejalan dengan pengelolaan risiko.
AAUI menilai industri perlu terus memperkuat permodalan, kualitas underwriting, dan pengelolaan risiko. Langkah itu dinilai penting agar industri asuransi umum tetap mampu menghadapi tantangan yang berkembang sekaligus menjaga kontribusinya terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
Source: finansial.bisnis.com






