Pemerintah Desak Gaikindo Uji Jalan E20, Langkah Kecil Yang Bisa Ubah Peta Impor BBM Indonesia

Author: Qoo Media

Pemerintah mulai menekan akselerasi uji jalan untuk bensin campuran bioetanol 20 persen atau E20. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendorong Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia untuk segera melakukan road test agar kesiapan kendaraan bisa dilihat langsung di lapangan.

Dorongan ini muncul sebagai bagian dari persiapan mandatori E20 yang ditargetkan berjalan mulai 2028. Pemerintah ingin memastikan penerapan kebijakan itu bisa membantu menekan impor bahan bakar minyak nasional.

Uji lapangan jadi kunci sebelum mandat berlaku

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi meminta asosiasi otomotif ikut mempercepat pengujian tersebut. Ia menilai road test penting untuk mengetahui langsung performa kendaraan bermotor saat memakai bahan bakar alternatif campuran bioetanol.

Eniya menyebut pengujian ini perlu dilakukan secepatnya bersama tim Gaikindo. Pemerintah berharap hasilnya memberi gambaran teknis yang jelas sebelum aturan E20 dijalankan lebih luas.

Kementerian ESDM optimistis mesin mobil keluaran terbaru sudah lebih siap menerima kadar campuran nabati yang lebih tinggi. Eniya bahkan menyebut ada kajian yang menunjukkan mobil modern bisa mencapai campuran hingga 30 persen.

“Kalau itu oke kan berarti 10% nggak apa-apa. Tapi kalau saya yakin produk-produk mobil yang sekarang itu bisa sampai 30%, itu di jurnal ada,” kata Eniya.

Ia juga menegaskan bahwa yang perlu dicari adalah dasar teoritis dari kemampuan tersebut. Menurut dia, pertanyaan penting berikutnya adalah pada tahap berapa E10, E20, dan E30 bisa diterapkan.

Target kurangi impor BBM

Pemerintah menempatkan E20 sebagai bagian dari strategi besar pengurangan impor energi. Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa mandatori 20 persen bisa memangkas impor bensin hingga 8 juta kiloliter.

Ia menilai program kemandirian energi ini realistis karena bahan baku domestik dinilai melimpah. Singkong, jagung, dan tebu disebut sebagai komoditas pendukung yang tersedia besar di dalam negeri.

Kebijakan pencampuran bahan bakar nabati juga diproyeksikan menjadi instrumen jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasokan energi luar negeri. Pemerintah sebelumnya mengklaim sudah menghentikan impor solar pada tahun ini lewat mandatori biodiesel berbasis sawit.

Bahlil menjelaskan bahwa sebagian kebutuhan solar yang dulu dipenuhi dari impor kini digantikan produk berbasis sawit dari dalam negeri. Pola itu kini menjadi landasan untuk mendorong pemanfaatan bioetanol pada bensin.

Arah kebijakan menuju bahan bakar campuran lebih tinggi

Pemerintah melihat uji jalan E20 bukan sekadar simulasi teknis, tetapi juga penentu arah transisi energi ke depan. Jika pengujian berjalan lancar, tahapan menuju campuran bahan bakar yang lebih tinggi dinilai bisa disusun lebih cepat dan lebih terukur.

Di sisi lain, hasil pengujian akan menjadi pijakan untuk membaca kesiapan kendaraan masyarakat terhadap bahan bakar nabati. Pemerintah ingin memastikan kebijakan yang disusun tidak menimbulkan hambatan teknis berarti pada mesin kendaraan.

Optimisme itu muncul di tengah upaya memperluas penggunaan energi terbarukan di sektor transportasi. Dengan dukungan industri otomotif, pemerintah berharap E20 dapat menjadi langkah penting menuju kemandirian energi yang lebih kuat.

Terbaru