Boikot Massal Guncang Starbucks Korea, Penjualan Anjlok 26 Persen dan Ribuan Gerai Ditutup

Author: Qoo Media

Starbucks Korea menghadapi tekanan besar setelah gelombang boikot massal memukul penjualannya. Volume pembayaran di gerai perusahaan itu tercatat anjlok 26 persen pada pekan pertama setelah kontroversi promosi pemasarannya memicu kemarahan publik.

Pemulihan memang mulai terlihat, tetapi dampaknya masih terasa kuat. Pada pekan pertama Juni, transaksi naik 12,8 persen, namun masih sekitar 25 persen di bawah kondisi normal sebelum insiden tersebut mencuat.

Kontroversi bermula dari promosi tumbler

Polemik ini berawal saat Starbucks Korea meluncurkan diskon untuk seri tumbler bertema "Tank Day" pada 18 Mei 2026. Tanggal itu bertepatan dengan peringatan Tragedi Gwangju, salah satu peristiwa paling sensitif dalam sejarah Korea Selatan.

Tragedi Gwangju dikenal sebagai penumpasan demonstrasi pro-demokrasi oleh militer pada 1980 yang menewaskan ratusan warga sipil. Karena itu, promosi tersebut dianggap tidak peka dan langsung memicu reaksi keras dari masyarakat.

Boikot meluas dan menekan operasional

Sejumlah pelanggan merespons dengan membatalkan pembelian dan merusak produk Starbucks yang sudah dimiliki. Seruan boikot juga menyebar di media sosial dan membuat tekanan terhadap perusahaan semakin besar.

Dampak reputasi itu tidak berhenti di konsumen. Beberapa instansi pemerintah dilaporkan ikut menghentikan kerja sama dengan jaringan kedai kopi tersebut.

Gerai ditutup sementara untuk pelatihan

Menghadapi krisis itu, Starbucks Korea mengambil langkah luar biasa dengan menutup sementara lebih dari 2.000 gerai pada 22 Juni 2026. Penutupan itu dilakukan untuk menggelar pelatihan sejarah dan sensitivitas sosial bagi seluruh karyawan.

Langkah tersebut diperkirakan membuat perusahaan kehilangan pendapatan sekitar 2,1 miliar won atau setara US$ 1,4 juta. Dengan asumsi kurs Rp 17.700 per dolar AS, nilai itu setara sekitar Rp 24,8 miliar.

Manajemen akui kesalahan

Starbucks Korea mengakui kampanye pemasaran itu keliru dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Perusahaan menegaskan insiden tersebut tidak seharusnya terjadi.

Shinsegae Group, yang mengelola Starbucks Korea melalui lisensi dari induk perusahaan di Amerika Serikat, menyebut pelatihan wajib itu dirancang untuk memperdalam pemahaman karyawan terhadap sejarah Korea modern. Program itu juga ditujukan agar tim pemasaran lebih peka saat menyusun strategi promosi di masa mendatang.

Investigasi masih berjalan

Selain karyawan, Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin juga dijadwalkan mengikuti pelatihan serupa bersama jajaran eksekutif perusahaan. Di sisi lain, investigasi internal menyebut tidak ditemukan unsur kesengajaan dalam kampanye tersebut.

Meski begitu, kasus ini masih menjadi sorotan publik dan sedang dalam penyelidikan pihak kepolisian Seoul, sementara Starbucks Korea berupaya memulihkan kepercayaan pelanggan di tengah dampak boikot yang belum sepenuhnya reda.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru