Prodia Diagnostic Line Mulai IPO, Incar Dana Segar Rp62,75 Miliar untuk Ekspansi dan Bayar Utang

PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mulai membuka masa penawaran awal untuk penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada Kamis, 18 Juni 2026. Emiten alat kesehatan diagnostik yang memakai merek Proline itu menargetkan dana segar hingga Rp62,75 miliar dari pelepasan saham baru ke publik.

Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru, setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Kisaran harga penawaran awal dipatok Rp100 hingga Rp120 per saham, dengan PT Sucor Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Dana IPO untuk pelunasan utang dan ekspansi

Setelah dikurangi biaya emisi, dana hasil IPO akan diarahkan ke beberapa kebutuhan strategis. Sebesar Rp35,67 miliar akan dipakai untuk melunasi pokok fasilitas kredit kepada Bank Central Asia dan Bank Panin.

Sisa dana juga sudah dialokasikan untuk dua pos lain. Sekitar 28,92 persen akan masuk ke belanja modal, sedangkan 8,51 persen digunakan sebagai modal kerja.

Langkah itu memperlihatkan upaya PRDL memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung ekspansi bisnis. Sebagai anak usaha Grup Prodia, perusahaan ini masuk bursa dengan posisi keuangan yang masih menunjukkan pertumbuhan.

Kinerja 2025 menguat tajam

Sepanjang 2025, PRDL membukukan pendapatan Rp74,37 miliar. Angka itu naik 26,8 persen dibandingkan pendapatan 2024 yang sebesar Rp58,66 miliar.

Laba tahun berjalan juga ikut terkerek. Perseroan mencatat laba Rp16,99 miliar pada 2025, naik 70 persen dari Rp9,99 miliar pada 2024.

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu modal utama di balik aksi korporasi ini. Di sisi lain, pasar alat kesehatan diagnostik juga dinilai masih punya ruang berkembang di Indonesia.

Dukungan pasar dan portofolio produk

Prospek industri In Vitro Diagnostics di Indonesia disebut ikut menopang rencana IPO PRDL. Salah satu pendorongnya adalah anggaran kesehatan dalam APBN 2026 yang mencapai Rp244 triliun.

Program Cek Kesehatan Gratis dengan pagu Rp2,6 triliun juga membuka peluang bagi perusahaan. PRDL memiliki portofolio produk reagen kimia klinik, hematologi, imunologi, hingga instrumen diagnostik dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri di atas 40 persen.

Skala bisnis perseroan juga sudah menjangkau banyak wilayah. Hingga kini, PRDL melayani lebih dari 7.600 pengguna akhir di 370 kabupaten/kota pada 38 provinsi di Indonesia.

Struktur saham dan jadwal IPO

Sebelum melantai di bursa, komposisi pemegang saham PRDL didominasi PT Prodia Utama sebesar 51 persen. PT Prodia Widyahusada Tbk memegang 39 persen, sedangkan Diasys Diagnostic Systems GmbH memiliki 10 persen.

Rangkaian IPO PRDL dijadwalkan berlanjut hingga pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia. Masa penawaran awal berlangsung 18 Juni sampai 23 Juni 2026, dengan perkiraan tanggal efektif OJK pada 29 Juni 2026.

Perkiraan masa penawaran umum berlangsung 1 Juli hingga 7 Juli 2026, diikuti penjatahan pada 7 Juli 2026. Distribusi saham secara elektronik dijadwalkan pada 8 Juli 2026, sebelum pencatatan saham di BEI pada 9 Juli 2026.

Terkait