Ancaman Baru Trump ke Iran Guncang Pasar, Saham AS Melemah Di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Author: Qoo Media

Kontrak berjangka indeks S&P 500 melemah tipis di awal perdagangan Asia pada Senin, 22 Juni 2026, setelah bursa Amerika Serikat libur. Tekanan pasar muncul ketika harga minyak Brent melonjak lebih dari 2% di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran.

Pemicu utamanya adalah ancaman baru Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran. Ancaman itu muncul saat kedua negara masih menjalankan pembicaraan damai di Swiss yang semula membahas penyelesaian program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara permanen.

Risiko sentimen pasar berbalik

Situasi tersebut langsung menambah kekhawatiran investor yang sebelumnya menikmati reli saham global. Sektor teknologi, yang sempat naik 15% sepanjang kuartal kedua tahun ini setelah berakhirnya blokade ganda di Selat Hormuz beberapa bulan lalu, kini menghadapi ujian baru.

Analis pasar menilai kondisi pada akhir pekan itu dapat membalik sentimen positif yang selama ini menopang bursa saham. Tony Sycamore, analis IG di Sydney, menyebut ada potensi gagalnya Nota Kesepahaman AS-Iran yang masih sangat rapuh setelah rangkaian peristiwa pada akhir pekan.

Kenaikan harga minyak ikut memperkuat tekanan pada pasar ekuitas. Di saat yang sama, dolar AS menguat terhadap mata uang utama, menandakan investor mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik.

Dampak meluas ke pasar global

Gejolak ini tidak hanya terasa di Amerika Serikat. Pound sterling turun 0,2% karena pasar Inggris ikut diguncang isu politik domestik, termasuk rumor mundurnya Perdana Menteri Keir Starmer.

Pasar obligasi Inggris juga berada dalam tekanan setelah muncul spekulasi bahwa Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, berpeluang menggantikan Starmer dalam waktu dekat. Kekhawatiran pasar terletak pada kemungkinan Burnham meningkatkan belanja pemerintah, yang dapat menambah beban utang Inggris.

Di Asia, investor juga memantau tingkat suku bunga pinjaman perbankan komersial China yang diperkirakan tidak berubah. Kuatnya ekspor dan pertumbuhan sektor kecerdasan buatan dianggap mengurangi kebutuhan pemerintah China untuk menambah stimulus ekonomi.

Kombinasi isu geopolitik, pergerakan harga minyak, dan kekhawatiran politik di beberapa negara besar membuat pasar memulai pekan dengan nada hati-hati. Fokus utama investor kini tertuju pada apakah ketegangan AS-Iran akan mereda atau justru memperdalam tekanan pada saham global.

Terbaru