OJK Optimistis Multifinance Tembus Jalur 8 Persen, Mesin Pembiayaan Mulai Panas

OJK menilai industri multifinance masih memiliki peluang besar untuk tumbuh sesuai target piutang pembiayaan 6-8 persen sepanjang 2026. Keyakinan itu muncul karena kinerja pembiayaan hingga April masih menunjukkan tren positif dan belum keluar dari jalur proyeksi awal.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyebut outlook pertumbuhan tersebut masih “on track” dengan dukungan pelaku industri. “Kami yakin dengan dukungan seluruh pelaku industri multifinance bahwa outlook 6-8 persen pertumbuhan piutang pembiayaan yang kami sampaikan dulu di awal tahun 2026 Insyaallah masih on track,” ujarnya dalam acara Mid-Year Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (26/1).

Kinerja pembiayaan masih bergerak positif

Hingga April 2026, piutang pembiayaan industri multifinance tumbuh 2,08 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, total piutang pembiayaan tercatat sebesar Rp514,65 triliun, dengan pembiayaan baru yang telah disalurkan sekitar Rp9 triliun.

OJK menilai laju itu masih memberi ruang untuk mengejar target hingga akhir tahun. Untuk mencapai proyeksi pertumbuhan 6-8 persen, industri multifinance diperkirakan masih perlu menambah pembiayaan sekitar Rp30 triliun sampai penutupan tahun.

Sektor usaha dan rumah tangga masih jadi penopang

Pertumbuhan pembiayaan industri masih ditopang pembiayaan modal kerja yang naik 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi penyaluran, sektor perdagangan besar dan eceran tetap menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan nilai Rp90 triliun atau sekitar 17 persen dari total portofolio.

Setelah itu, sektor penyewaan atau leasing menempati posisi berikutnya dengan nilai pembiayaan Rp58 triliun. OJK juga menyoroti pertumbuhan sektor rumah tangga yang naik sekitar 28 persen secara tahunan menjadi Rp43 triliun, sebuah laju yang disebut Agusman sebagai perkembangan yang cukup menonjol.

Pembiayaan berkelanjutan ikut membuka peluang

Selain pembiayaan konvensional, OJK melihat ruang pertumbuhan yang makin besar pada pembiayaan berkelanjutan. Salah satu pendorongnya datang dari pembiayaan kendaraan listrik yang meningkat 32 persen menjadi Rp23 triliun.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa multifinance tidak hanya bertumpu pada pembiayaan sektor tradisional, tetapi juga mulai bergerak ke segmen yang sejalan dengan transformasi industri. Bagi OJK, perluasan portofolio tersebut dapat menjaga pertumbuhan tetap sehat sekaligus relevan dengan kebutuhan pasar.

Deregulasi dipakai untuk menjaga momentum

Untuk mempertahankan laju industri, OJK telah mengeluarkan sejumlah kebijakan deregulasi. Salah satunya berupa fleksibilitas uang muka kendaraan bermotor hingga nol persen bagi perusahaan pembiayaan yang memenuhi persyaratan tertentu.

OJK juga menghapus kewajiban agunan untuk pembiayaan modal kerja kepada pelaku UMKM dengan nilai hingga Rp100 juta. Selain itu, persyaratan rasio modal inti terhadap modal disetor bagi perusahaan pembiayaan diturunkan menjadi 50 persen dari sebelumnya 150 persen.

“Semua deregulasi ini kami maksudkan di samping mendorong usaha multifinance juga sekaligus tentu memberikan layanan yang terbaik untuk masyarakat yang membutuhkan pembiayaan,” kata Agusman.

Fondasi industri masih dinilai sehat

Dari sisi fundamental, OJK menilai kondisi industri pembiayaan tetap kuat. Hingga April 2026, total aset perusahaan pembiayaan mencapai Rp593 triliun dengan gearing ratio 2,14 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali.

Kualitas pembiayaan juga masih terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing gross sebesar 2,89 persen. Dengan kondisi itu, OJK melihat industri multifinance masih memiliki ruang untuk tumbuh sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil sepanjang tahun ini.

Source: mediaindonesia.com

Terkait