Mitra Visual Group memilih menahan harga jual produknya di tengah fluktuasi rupiah terhadap dollar AS dan ketatnya persaingan industri audiovisual nasional. Di saat banyak perusahaan menaikkan harga demi menjaga profitabilitas, langkah MVG justru diarahkan untuk menjaga kepercayaan pelanggan.
Keputusan itu datang dengan konsekuensi yang nyata. Manajemen perusahaan rela menekan margin keuntungan agar pelanggan tetap mendapat akses teknologi terkini dengan harga yang kompetitif.
Fokus bergeser dari jual barang ke solusi
MVG yang berbasis di Surabaya kini tidak hanya menjual perangkat keras. Perusahaan ini mengembangkan layanan komprehensif, mulai dari konsultasi hingga eksekusi teknologi untuk kebutuhan industri hiburan dan event.
CEO Mitra Visual Group, Yafet Victoe, menyebut perusahaan terus berkembang setiap tahun dan bergerak menjadi solution company. Ia menegaskan bahwa MVG ingin memberi pengalaman, bukan sekadar produk.
Perubahan arah bisnis itu menjadi strategi utama di tengah pasar yang semakin kompleks. Kebutuhan acara modern menuntut layanan yang lebih menyeluruh, terutama saat pelaku industri kreatif memerlukan solusi yang cepat dan terintegrasi.
MVG bergerak di bidang solusi audiovisual, LED videotron, lighting, rigging, hingga broadcast system. Perusahaan menilai rangkaian kebutuhan itu kini harus hadir sebagai satu sistem yang saling terhubung.
Harga dijaga, pelanggan diprioritaskan
Yafet menilai ketidakpastian harga dollar sangat memengaruhi biaya usaha. Namun, perusahaan memilih tetap memuaskan pelanggan daripada menaikkan harga jual di pasaran.
Kebijakan itu diambil agar konsumen tetap bisa mengakses teknologi terbaru tanpa beban harga yang melonjak. Di sisi lain, perusahaan mengakui ada margin yang harus dikurangi untuk mempertahankan posisi tersebut.
Langkah ini juga didorong oleh komitmen mutu layanan. Bagi MVG, menjaga loyalitas pelanggan dianggap lebih penting daripada mengejar kenaikan harga jangka pendek.
Permintaan pasar masih tinggi
Strategi penahanan harga ternyata ikut berkaitan dengan performa bisnis yang membaik. Kinerja operasional perusahaan dilaporkan menunjukkan kenaikan signifikan dibanding periode sebelumnya.
Di sela Surabaya Music Expo (SMEX) 2026, Yafet mengatakan perusahaan sudah mencapai target pada hari kedua pameran musik tersebut, bahkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Ia juga melihat permintaan pasar terhadap display LED dan tata lampu profesional masih sangat tinggi.
Potensi pertumbuhan itu terlihat jelas di Surabaya dan kawasan Indonesia Timur. MVG menilai kebutuhan akan visualisasi digital dalam event modern membuat LED display dan sistem pencahayaan canggih semakin penting.
Yafet mengatakan rata-rata sebuah event kini menggunakan LED dan lighting. Karena itu, perusahaan berupaya menyediakan dukungan lighting, desainer visual, dan sistem yang lengkap agar pelanggan tidak hanya membeli barang, tetapi juga mendapat solusi.
Investasi teknologi jadi pembeda
Di tengah kompetisi yang ketat, MVG memilih bergerak proaktif. Perusahaan lebih dulu berinvestasi pada teknologi dan integrasi sistem untuk membedakan diri dari pesaing.
Yafet menyebut persaingan di industri ini sangat berat, tetapi MVG bersyukur bisa mengikuti arus perkembangan pasar dan mengklaim berada di jajaran top 5 Indonesia. Menurut dia, investasi perusahaan bahkan meningkat sekitar 70% karena mengikuti hal-hal yang belum banyak dilakukan pelaku lain di Indonesia.
Salah satu wujudnya adalah integrasi berbagai ekosistem perangkat ke dalam satu sistem operasional. MVG melihat tren pameran dan hiburan 2026 mengarah pada konektivitas antarperangkat yang lebih kuat dan efisien.
Dalam satu event hiburan, sistem yang terhubung memungkinkan pekerjaan dijalankan dengan lebih ringkas. Yafet menjelaskan, operasional yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga kini bisa tersusun dalam satu arena dengan sistem yang sudah terintegrasi.
Pasar luas dan basis usaha menguat
Target pasar MVG mencakup vendor penyewaan, penyelenggara acara, pemilik tempat hiburan, hingga instansi pemerintah. Segmen government juga dianggap penting karena mengikuti aturan pemerintah dan TKD yang disebut paling tinggi.
Perusahaan memperkuat bisnisnya lewat kemitraan strategis dengan produsen asal China. Di saat yang sama, sebagian komponen juga sudah berhasil dipasok dari dalam negeri.
MVG menyebut penguasaan pasar Indonesia Timur menjadi salah satu kekuatan utamanya. Perusahaan memiliki tiga cabang di Jakarta, Surabaya, dan Bali, dengan kantor utama tetap berada di Surabaya.
