200 Pelaku Usaha Mikro Garut Dilatih Kelola Finansial, Warung Kecil Dipaksa Naik Kelas

Ratusan pelaku usaha mikro di Garut mendapat bekal baru untuk mengelola bisnis mereka lewat Sakola Ngawarung. Program ini menyasar hal yang paling sering menjadi tantangan di level usaha kecil, yakni cara menata toko, mencatat keuangan, dan menjaga arus kas tetap sehat.

Sebanyak 200 peserta ikut dalam kegiatan yang digelar di Gedung Pendopo Kabupaten Garut. Mereka terdiri atas 175 pemilik warung kelontong dan 25 pelaku UMKM Wirahebat binaan Pemerintah Kabupaten Garut.

Dorong warung dan UMKM saling terhubung

Sakola Ngawarung diinisiasi Yayasan Senyum Untuk Negeri bersama Pemerintah Kabupaten Garut sebagai bagian dari Program C-LIVE atau Community-Led Initiative for Versatile and Empowerment. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Sampoerna Entrepreneurship Training Center dan Sampoerna Retail Community melalui Program Keberlanjutan Sampoerna untuk Indonesia.

Fokus pelatihan tidak hanya meningkatkan keterampilan peserta dalam mengelola usaha. Program ini juga diarahkan untuk membuka sinergi antara warung kelontong dan produk-produk UMKM lokal di Garut.

Materi yang diberikan mencakup tata kelola toko modern dan manajemen keuangan praktis. Peserta juga dibekali teknik penataan barang dagangan, pengelolaan inventori, pencatatan arus kas harian, hingga cara menghitung break even point atau BEP.

Di area pelatihan, panitia turut memajang berbagai produk UMKM Wirahebat. Etalase itu dipakai untuk memperkenalkan komoditas unggulan daerah sekaligus memberi ruang promosi bagi pelaku usaha lokal.

Peluang pasar lebih luas

Sejumlah produk Wirahebat nantinya akan masuk tahap kurasi sebelum dipasarkan lebih luas melalui Pojok Lokal di jaringan Warung Mitra SRC. Skema ini memberi jalur distribusi yang lebih konkret bagi produk UMKM agar bisa menjangkau pasar yang lebih besar.

Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina menilai program seperti ini bisa memberi manfaat nyata bagi pertumbuhan usaha mikro di daerahnya. Ia menyebut kolaborasi antara dunia usaha, lembaga pengembangan masyarakat, dan pemerintah menjadi contoh penguatan ekonomi kerakyatan di Garut.

Luthfianisa juga menekankan agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia berharap peserta benar-benar menerapkan materi yang diterima di lapangan supaya usaha mereka menjadi lebih tangguh, inovatif, dan berdaya saing.

Ia menambahkan, penerapan ilmu baru itu penting untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dengan begitu, pelaku usaha mikro di Garut diharapkan bisa memberi dampak yang lebih besar bagi perekonomian daerah.

Dari pelatihan ke jejaring usaha

Selain soal keterampilan teknis, program ini juga membuka ruang bagi lahirnya jejaring antarpelaku usaha. Jejaring tersebut diharapkan membuat peserta saling mendukung dan tumbuh bersama dalam menghadapi kebutuhan pasar yang terus berubah.

Bagi pelaku warung kelontong, kemampuan mengelola stok dan arus kas menjadi fondasi penting untuk menjaga usaha tetap berjalan. Bagi UMKM lokal, kesempatan masuk ke ekosistem distribusi Warung Mitra SRC dapat menjadi pintu awal untuk memperluas jangkauan produk mereka.

Kombinasi pelatihan bisnis, manajemen keuangan, dan promosi produk lokal menjadikan Sakola Ngawarung lebih dari sekadar kelas usaha. Program ini menempatkan warung dan UMKM sebagai bagian dari rantai ekonomi lokal yang saling menguatkan di Kabupaten Garut.

Terkait