PLN menyiapkan langkah baru untuk memperluas energi terbarukan dengan memanfaatkan koridor jalan tol milik Jasa Marga sepanjang 802 kilometer. Ruas tol itu akan disulap menjadi area pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS, sekaligus Pembangkit Listrik Tenaga Bayu atau PLTB.
Rencana ini masuk dalam konsep green corridor yang dinilai bisa menjawab persoalan utama pengembangan PLTS di Indonesia, yakni keterbatasan lahan. Dengan memanfaatkan sisi kiri dan kanan tol, PLN melihat ada potensi area yang cukup besar untuk dipasangi panel surya tanpa harus mencari lahan baru.
Tol jadi ruang baru untuk energi surya
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut sepanjang 802 kilometer tol Jasa Marga bisa menjadi contoh pemanfaatan koridor transportasi untuk pembangkit listrik hijau. Ia menjelaskan bahwa jika lebar lahan di kedua sisi jalan tol mencapai sekitar 3 hingga 5 meter, maka tersedia area sekitar 400 hingga 500 hektare.
Dari hitungan itu, Darmawan menyebut potensi daya yang bisa dihasilkan mencapai sekitar setengah gigawatt peak. Angka tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur jalan tidak hanya berfungsi sebagai jalur mobilitas, tetapi juga dapat mendukung produksi energi bersih.
Jawaban atas kendala lahan PLTS
PLN menilai keterbatasan lahan selama ini menjadi hambatan besar dalam pengembangan pembangkit surya di Indonesia. Proyek di koridor tol dinilai lebih praktis karena memanfaatkan ruang yang sudah ada dan tidak bersaing langsung dengan kebutuhan lahan lain.
Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya mempercepat pembangunan energi baru terbarukan. Di tengah kebutuhan listrik yang terus tumbuh, pemanfaatan koridor jalan tol bisa membuka opsi pengembangan yang lebih fleksibel dan efisien.
Tak hanya surya, angin juga masuk skema
Selain PLTS, PLN juga menyiapkan pembangkit listrik tenaga bayu dengan desain turbin berbentuk silinder. Teknologi ini dirancang bukan hanya untuk menghasilkan listrik dari angin, tetapi juga memberi nilai estetika pada lanskap di sepanjang tol.
Darmawan menyebut desain tersebut bisa membuat area tol tampak lebih menarik. Dengan begitu, proyek green corridor tidak hanya berfokus pada fungsi energi, tetapi juga pada tampilan ruang publik yang lebih tertata.
Dukung target PLTS 100 GW
Rencana pemanfaatan koridor tol ini menjadi bagian dari program nasional PLTS berkapasitas 100 gigawatt. Pemerintah telah memberi penugasan untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional melalui pengembangan kapasitas surya berskala besar.
PLN menilai program itu penting untuk memperbesar bauran energi baru terbarukan dalam sistem energi nasional. Pengembangan di jalur tol bisa menjadi salah satu cara untuk mempercepat realisasi target tersebut dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia.
Dorong energi domestik dan kurangi impor
Darmawan juga menilai green corridor bisa membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi impor. Menurut dia, pemanfaatan matahari dan angin sebagai sumber daya domestik dapat mendorong peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan.
Ia menegaskan bahwa transformasi ini juga berkaitan dengan efisiensi biaya. “Energi impor menjadi domestik. Energi fosil menjadi renewable energy,” ujar Darmawan, sambil menekankan bahwa energi terbarukan berpotensi membuat biaya pembangkitan lebih murah.
Jika terealisasi, koridor tol Jasa Marga dapat menjadi salah satu model pemanfaatan ruang infrastruktur yang menggabungkan fungsi transportasi, pasokan listrik bersih, dan estetika lingkungan dalam satu kawasan.
