Penerapan bahan bakar B50 mulai 1 Juli 2026 memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pengusaha truk di Jawa Timur. Mereka menilai kebijakan dengan kandungan biodiesel 50% itu berpotensi menaikkan biaya perawatan armada karena filter bahan bakar harus diganti lebih sering.
Kekhawatiran itu terutama muncul karena banyak kendaraan niaga masih memakai standar emisi Euro 2 hingga Euro 4. Para pengusaha menilai kebijakan ini belum dibarengi kajian teknis yang memadai, padahal dampaknya bisa langsung terasa pada operasional harian dan ongkos angkut barang.
Filter lebih cepat kotor
Ketua Pengurus Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur, Sundoro, menyebut mayoritas armada masih mengandalkan biosolar untuk menjalankan distribusi. Dengan karakteristik B50 yang memiliki kandungan biodiesel lebih tinggi, risiko penyumbatan filter dinilai ikut meningkat.
Sundoro mengatakan anjuran dari pakar dan ATPM menunjukkan penggantian filter mesin bisa lebih cepat dari biasanya. Ia menilai kondisi itu menjadi persoalan serius karena bahan bakar merupakan komponen utama dalam bisnis angkutan barang.
Menurut simulasi yang disampaikan, usia pakai filter bahan bakar bisa turun hingga separuh dibandingkan saat memakai B30 atau B40. Jika sebelumnya filter diganti setelah kendaraan menempuh sekitar 10.000 kilometer, maka pada B50 penggantian bisa diperlukan setiap sekitar 5.000 kilometer.
Biaya operasional bisa naik signifikan
Perubahan interval penggantian filter itu dinilai akan langsung menambah beban biaya operasional perusahaan. Sundoro bahkan menyebut kenaikannya bisa mencapai 50% jika frekuensi perawatan melonjak dari satu kali dalam 10.000 kilometer menjadi satu kali dalam 5.000 kilometer.
Ia juga menyoroti pilihan bahan bakar lain yang dianggap lebih berkualitas seperti Dexlite, tetapi harganya masih dinilai terlalu mahal untuk pelaku usaha. Karena itu, banyak perusahaan angkutan tetap bergantung pada bahan bakar yang paling memungkinkan secara ekonomi untuk menopang bisnis sehari-hari.
Pelaku usaha minta kebijakan dihitung lebih lengkap
Pengusaha truk berharap pemerintah tidak hanya melihat B50 dari sisi ketahanan energi. Mereka meminta dampaknya terhadap sektor transportasi logistik ikut dihitung secara detail, terutama karena armada barang menjadi salah satu tulang punggung distribusi di daerah.
Sundoro menilai penyesuaian biaya perawatan seharusnya diikuti dengan penyesuaian ongkos angkut. Ia menyebut kebutuhan itu penting agar pelaku usaha tidak menanggung beban tambahan sendirian ketika biaya maintenance meningkat.
Para pengusaha truk kini menunggu evaluasi teknis dari pemerintah terkait penerapan B50. Mereka juga berharap ada penyesuaian tarif angkutan agar lonjakan biaya perawatan armada tidak semakin menekan bisnis logistik yang sangat bergantung pada efisiensi operasional.
Source: www.beritasatu.com






