PT Bank Mandiri Taspen atau Bank Mantap menargetkan naik kelas menjadi bank Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 pada 2028. Target itu didorong oleh penguatan modal secara organik, seiring kinerja yang terus membaik dan kebijakan penahanan laba yang besar.
Head of Strategic & Performance Management Department Bank Mandiri Taspen, Agus Syaiful Anwar, menyampaikan optimisme tersebut dalam media gathering di Denpasar, Bali. Ia menyebut perseroan ingin menjaga tren pertumbuhan agar modal inti terus menembus batas yang dipersyaratkan regulator.
Modal inti sudah mendekati Rp10 triliun
Bank Mantap baru naik dari KBMI 1 ke KBMI 2 pada April 2024. Saat itu, modal inti perseroan sudah melampaui syarat minimum KBMI 1 sebesar Rp 6 triliun, dan kini nilainya disebut mendekati Rp10 triliun.
Posisi itu menjadi pijakan penting untuk melangkah ke KBMI 3. Untuk masuk kategori tersebut, bank harus memiliki modal inti di atas Rp 14 triliun.
Agus mengatakan penguatan modal tidak lagi bergantung pada skema penambahan modal eksternal. Sejak 2020, kebutuhan permodalan telah dipenuhi secara organik melalui kinerja usaha yang meningkat.
Laba ditahan jadi mesin penguat modal
Sebelumnya, ekspansi bisnis Bank Mantap sempat ditopang oleh right issue pada periode 2017 hingga 2020. Dukungan modal saat itu datang dari Bank Mandiri dan Taspen sebagai pemegang saham.
Namun, arah penguatan berubah setelah 2020 karena perseroan mampu membiayai pertumbuhan dari hasil usahanya sendiri. Bank Mantap menetapkan dividend payout ratio hanya 10 persen, sehingga sekitar 90 persen laba ditahan dan diputar kembali menjadi modal.
Kebijakan itu membuat akumulasi modal inti berjalan lebih cepat. Agus menilai struktur permodalan seperti ini memberi ruang yang lebih sehat untuk mengejar target jangka menengah.
Kinerja keuangan jadi penopang utama
Dari sisi ketahanan modal, rasio kecukupan modal atau CAR Bank Mantap sudah berada di sekitar 30 persen. Angka tersebut disebut jauh di atas ketentuan regulator dan juga lebih tinggi dari rata-rata industri perbankan.
Berdasarkan laporan keuangan per akhir Maret 2026, rasio kewajiban penyediaan modal minimum atau KPMM berada pada level 30,04 persen. Pada periode yang sama, modal inti Tier 1 atau CET1 mencapai Rp 9,34 triliun, tumbuh 18,3 persen secara tahunan dari Rp 7,90 triliun.
Pertumbuhan itu juga terlihat pada laba bersih. Hingga akhir Maret 2026, laba bersih periode berjalan tercatat Rp 464,2 miliar, naik 6,6 persen dibanding Rp 435,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Target laba dipasang bertahap
Agus menyebut pertumbuhan laba menjadi salah satu kunci utama untuk mencapai KBMI 3. Ia memperkirakan laba perseroan bisa terus meningkat secara bertahap dari tahun ke tahun.
“Harapannya (laba) tahun ini bisa Rp1,7 triliun, tahun depannya lagi bisa Rp2 triliun, tahun depannya lagi bisa Rp2,5 triliun,” ujarnya. Dengan pola itu, perseroan merasa masih sangat percaya diri bisa naik kelas ke KBMI 3 pada 2028 lewat cara organik.
Peningkatan laba tersebut penting karena langsung mendukung penambahan modal inti. Semakin kuat laba ditahan, semakin cepat bank memperbesar basis modal yang menjadi syarat utama peningkatan kelompok bank.
Pertumbuhan bisnis ikut menguat
Selain laba, aktivitas intermediasi Bank Mantap juga bergerak positif. Dana pihak ketiga per akhir Maret 2026 mencapai Rp 58,34 triliun, naik 17,6 persen secara tahunan.
Kenaikan itu ditopang oleh pertumbuhan dana murah atau CASA yang mencapai Rp 15,06 triliun. Angkanya tumbuh 44,2 persen secara tahunan dan memperkuat efisiensi pendanaan.
Di sisi penyaluran kredit, Bank Mantap mencatat pembiayaan sebesar Rp 51,63 triliun, tumbuh 9,4 persen secara tahunan. Total aset perseroan juga naik 14 persen menjadi Rp 76,58 triliun per akhir Maret 2026.
Dengan modal inti yang sudah mendekati Rp10 triliun, KPMM yang masih tinggi, dan laba yang terus tumbuh, Bank Mantap menempatkan strategi organik sebagai jalur utama menuju KBMI 3. Jika tren kinerja ini terjaga, target naik kelas pada 2028 menjadi semakin masuk akal bagi perseroan.
