Harga minyak dunia bergerak turun tipis pada perdagangan Kamis (9/7/2026) ketika pasar menimbang dua hal sekaligus: potensi gangguan pasokan dan peluang deeskalasi konflik. Brent terkoreksi 16 sen menjadi US$ 77,86 per barel, sementara WTI turun 15 sen menjadi US$ 73,37 per barel.
Pergerakan ini terjadi setelah harga acuan sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni 2026 pada sesi sebelumnya. Seusai penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026), Brent dan WTI bahkan sempat melonjak lebih dari US$ 1 per barel usai militer AS melancarkan serangan ke Iran yang kemudian dibalas serangan terhadap Kuwait dan Bahrain.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Utama
Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari 2026. Ketidakpastian mengenai kelancaran arus distribusi lewat jalur itu membuat harga minyak belum bisa bergerak lebih tinggi secara agresif.
Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar masih mengevaluasi situasi tersebut, terutama karena peluang deeskalasi konflik ikut menahan reli harga. Dalam pernyataannya kepada Reuters, ia menilai ketidakpastian arus minyak melalui Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan.
Di sisi lain, perusahaan asuransi perang dilaporkan menyarankan perusahaan pelayaran untuk menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz. Sejumlah perusahaan asuransi lain juga masih meninjau ketentuan polis setelah serangan terhadap kapal di kawasan itu kembali meningkat.
Skenario Pasar Masih Dua Arah
Goldman Sachs menilai risiko pasokan minyak dari kawasan Teluk masih bergerak ke dua arah. Jika negosiasi kembali berlanjut, sanksi atas ekspor minyak Iran dilonggarkan, dan keamanan pelayaran membaik, arus distribusi melalui Selat Hormuz diperkirakan kembali normal pada akhir Juli 2026.
Dalam skenario itu, volume pengiriman melalui Selat Hormuz diperkirakan naik sekitar 6,6 juta barel per hari. Sebaliknya, jika perundingan gagal, serangan terhadap kapal tanker meningkat, atau AS menerapkan blokade terhadap ekspor minyak Iran, gangguan pasokan bisa semakin besar.
| Acuan Harga | Pergerakan | Harga |
|---|---|---|
| Brent | Turun 16 sen atau 0,21% | US$ 77,86 per barel |
| WTI | Turun 15 sen atau 0,20% | US$ 73,37 per barel |
Direktur Riset Makroekonomi WisdomTree Aneeka Gupta memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$ 75 hingga US$ 85 per barel dalam satu bulan ke depan, dengan kecenderungan menguat secara terbatas. Pandangan itu sejalan dengan pasar yang masih menunggu kepastian arah konflik dan pasokan dari kawasan tersebut.
Di luar Timur Tengah, Rusia juga menambah faktor ketatnya pasokan dengan melarang ekspor diesel mulai Rabu (8/7/2026). Kebijakan itu diambil untuk menjaga pasokan bahan bakar domestik setelah serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak memicu kelangkaan dan lonjakan harga.
Source: www.beritasatu.com






