Transformasi BUMN perkebunan dinilai tidak bisa lagi berjalan lambat. Di tengah persaingan global, perubahan iklim, dan tuntutan keberlanjutan, sektor ini diminta bergerak lebih cepat agar tetap relevan dan memberi nilai tambah bagi ekonomi nasional.
PTPN I menegaskan perubahan itu sudah menunjukkan arah positif, tetapi masih perlu dipacu dengan komitmen bersama. Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras menyebut manajemen modern, profesional, tangguh, dan berdaya saing global menjadi kunci agar industri perkebunan tidak tertinggal.
Industri yang Menopang Banyak Lini Ekonomi
Menurut Rivai, industri perkebunan bukan sekadar urusan kebun dan produksi. Sektor ini menjadi penyedia bahan baku bagi industri manufaktur sekaligus menopang rantai ekonomi yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di banyak daerah.
“Industri perkebunan adalah menu utama sebagai penyedia bahan baku industri manufaktur. Industri ini tidak akan mati selagi masih ada kehidupan. Oleh karena itu, kita harus memperkuat semua lini dengan modernisasi dan profesionalitas agar perusahaan kita berkembang lebih progresif,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/7).
Ia juga menekankan bahwa percepatan transformasi perlu diarahkan bukan hanya untuk mengejar profit. Yang lebih penting, transformasi harus mampu menghadirkan dampak sosial yang lebih luas melalui lapangan kerja dan penguatan ekonomi daerah.
“Kita harus bertransformasi dengan cepat dan masif bukan hanya karena mengejar profit, tetapi menjaring efek sosial yang lebih luas. Kita tahu, perkebunan dan pertanian menyerap tenaga paling besar dalam rantai ekonomi,” katanya.
Perubahan Bisnis yang Bergerak Cepat
Rivai menjelaskan bahwa industri perkebunan kini menghadapi tekanan yang datang bersamaan. Persaingan global, fluktuasi harga komoditas, perubahan iklim, tuntutan Environmental, Social, and Governance (ESG), dan percepatan digitalisasi membuat pengelolaan perusahaan harus ikut berubah.
Karena itu, pengelolaan perkebunan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada produksi. Perusahaan juga harus mampu berinovasi, beradaptasi, dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.
| Pilar Transformasi | Fokus Utama |
|---|---|
| Good Corporate Governance (GCG) | Tata kelola transparan, akuntabel, dan profesional |
| Manajemen Risiko | Antisipasi ketidakpastian bisnis dan volatilitas harga |
| Digitalisasi | Efisiensi, kecepatan, akurasi, dan keputusan berbasis data |
| Optimalisasi Aset Negara | Nilai ekonomi lebih besar dan manfaat bagi masyarakat |
| Sinergi Kelembagaan | Kolaborasi lintas pihak untuk mendukung transformasi |
5 Pilar yang Jadi Fondasi Percepatan
Untuk mendukung transformasi, perusahaan menetapkan lima pilar utama. Kelimanya mencakup penguatan tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance, manajemen risiko, digitalisasi, optimalisasi aset negara, dan penguatan sinergi kelembagaan.
Rivai menilai tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan pemangku kepentingan. Fondasi itu juga dibutuhkan agar perusahaan tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, manajemen risiko dinilai penting untuk menghadapi ketidakpastian bisnis. Mulai dari volatilitas harga komoditas hingga dampak perubahan iklim, semua perlu dikelola secara terukur agar perusahaan tetap tumbuh.
“Perusahaan yang kuat bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara terukur sehingga tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global,” tegasnya.
Digitalisasi juga ditempatkan sebagai perubahan budaya kerja, bukan sekadar penerapan teknologi. Smart farming dan integrasi sistem informasi disebut menjadi langkah penting untuk mendorong efisiensi, kecepatan, akurasi, dan keputusan berbasis data.
Selain itu, optimalisasi aset negara diarahkan untuk menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar. Manfaatnya diharapkan ikut meluas melalui kemitraan, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi di wilayah operasional.
Kolaborasi Jadi Penentu
Rivai menegaskan bahwa transformasi tidak bisa dijalankan sendirian. Keberhasilan perubahan ini bergantung pada kolaborasi erat dengan pemerintah, regulator, dunia usaha, akademisi, aparat penegak hukum, dan masyarakat.
“Transformasi bukanlah pekerjaan satu orang atau satu institusi. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun perusahaan agribisnis nasional,” tandasnya. MediaIndonesia.com mencatat bahwa dorongan percepatan ini muncul di tengah kebutuhan industri perkebunan untuk naik kelas dan menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar yang semakin kompleks.
