Bank Indonesia menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas makroekonomi nasional masih terjaga. Status investment grade pun tetap melekat di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan afirmasi itu mencerminkan kepercayaan pemangku kepentingan internasional terhadap ekonomi Indonesia. Dalam keterangan resmi yang dikutip mediaindonesia.com pada Selasa (14/6), ia menegaskan penilaian tersebut lahir di tengah sinergi kebijakan yang konsisten antara pemerintah dan BI.
Sinyal dari fiskal dan eksternal
Perry menilai S&P melihat pelemahan sejumlah indikator fiskal dan eksternal hanya bersifat sementara. Menurut dia, arah kebijakan pemerintah yang makin stabil akan membantu memperbaiki kondisi tersebut seiring waktu.
| Aspek | Penilaian S&P | Implikasi |
|---|---|---|
| Rating Indonesia | BBB, outlook stabil | Status investment grade tetap terjaga |
| Fiskal | Pelemahan dinilai sementara | Berpotensi membaik dengan kebijakan yang lebih stabil |
| Eksternal | Penerimaan ekspor diperkirakan meningkat | Didukung membaiknya harga komoditas |
Selain itu, outlook stabil juga didorong keyakinan bahwa penerimaan negara akan pulih pada tahun ini. S&P menilai penerimaan ekspor berpeluang naik seiring perbaikan harga komoditas.
Disiplin fiskal dan ruang perbaikan peringkat
Perry menyebut pemerintah juga dinilai tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3% terhadap produk domestik bruto. Menurut dia, hal itu menjadi salah satu alasan outlook stabil tetap dipertahankan.
Ke depan, S&P membuka peluang peningkatan peringkat kredit Indonesia bila penguatan struktural pada indikator fiskal dan eksternal berlanjut. Dari sisi fiskal, perbaikan itu perlu datang dari penurunan defisit yang berkelanjutan, penerimaan negara yang lebih kuat, biaya pembiayaan yang lebih rendah, serta stabilitas nilai tukar.
Dari sisi eksternal, perbaikan diharapkan terjadi lewat menurunnya utang luar negeri dan kebutuhan pembiayaan eksternal bruto. Dengan kata lain, ruang kenaikan rating masih terbuka jika fondasi fiskal dan eksternal semakin solid.
Bauran kebijakan tetap diperkuat
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. BI juga akan mempererat koordinasi dengan pemerintah, termasuk sinergi kebijakan moneter dan fiskal, guna memitigasi dampak ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.
Selain itu, sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Langkah ini juga diarahkan agar pembiayaan berbagai program prioritas pemerintah dalam Asta Cita tetap terdukung.
Source: mediaindonesia.com






