Bank Danamon melihat Bank Indonesia masih punya ruang untuk menahan tekanan rupiah lewat bauran kebijakan moneter yang lebih ketat. Salah satu opsi yang dinilai masih terbuka adalah kenaikan BI Rate hingga 50 basis poin sampai akhir 2026.
Prospek itu muncul karena pasar keuangan domestik masih dibayangi volatilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat. Bagi Danamon, arah rupiah akan sangat ditentukan oleh faktor eksternal, terutama geopolitik dan dampaknya ke harga komoditas energi.
Geopolitik dan harga minyak jadi perhatian utama
Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz menilai eskalasi konflik global bisa langsung memukul harga minyak dunia. Dampaknya akan terasa ke Indonesia, yang masih berstatus net importir minyak dan bisa menghadapi pelebaran transaksi berjalan bila harga energi melonjak signifikan.
“Kita lihat transmisi dampaknya ke Indonesia itu utamanya dari oil price. Kalau harga minyak meningkat signifikan, maka sebagai negara net oil importer, current account kita berpotensi kembali melebar,” ujar Irman usai konferensi pers HUT Danamon ke-70 Danamon, Selasa (14/7/2026).
Meski begitu, Irman menilai kondisi saat ini masih jauh lebih terkendali dibandingkan periode konflik sebelumnya. Harga minyak belum melonjak ekstrem, sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar masih bisa dikelola.
| Faktor | Dampak yang Dipantau | Keterangan |
|---|---|---|
| Geopolitik global | Tekanan ke rupiah | Menjadi sumber ketidakpastian utama |
| Harga minyak | Current account berpotensi melebar | Relevan karena Indonesia net importir minyak |
| Batu bara dan CPO | Menopang cadangan devisa | Membantu penerimaan ekspor |
BI dinilai masih punya ruang intervensi dan kenaikan suku bunga
Di sisi lain, harga sejumlah komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO disebut ikut membantu cadangan devisa Indonesia. Kenaikan harga dua komoditas itu mendorong penerimaan ekspor, yang pada akhirnya memberi bantalan bagi posisi eksternal.
Irman menilai intervensi pasar valas oleh BI sejauh ini cukup efektif meredam tekanan pada mata uang domestik. Namun, bila tekanan rupiah kembali meningkat, ruang pengetatan masih terbuka melalui suku bunga acuan.
Menurut perhitungan Danamon, BI masih memiliki ruang kenaikan hingga 50 basis poin atau dua kali kenaikan masing-masing 25 basis poin. Dengan skenario itu, BI Rate berpotensi bergerak ke level 6,25% hingga akhir 2026.
“Dengan asumsi volatilitas rupiah masih akan tertekan, kami melihat masih ada ruang kenaikan suku bunga acuan hingga dua kali 25 basis poin menuju level 6,25%. Namun, apabila kondisi global membaik, ruang tersebut tidak harus digunakan,” kata Irman.
Ia menekankan bahwa keputusan BI akan sangat bergantung pada perkembangan global dan apakah ada kejutan baru yang kembali menekan rupiah. Karena itu, ruang kenaikan suku bunga belum bisa dianggap sebagai langkah yang pasti akan diambil.
Fiskal dan sentimen pasar ikut menentukan arah rupiah
Selain moneter, Danamon menilai stabilitas rupiah juga membutuhkan dukungan fiskal. Kredibilitas kebijakan pemerintah, terutama dalam menjaga disiplin fiskal, disebut penting untuk mempertahankan kepercayaan investor terhadap aset domestik.
Irman juga menyoroti keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Menurut dia, sentimen itu positif bagi pasar, tetapi keberlanjutannya tetap bergantung pada konsistensi eksekusi kebijakan pemerintah.
Lembaga pemeringkat, kata Irman, kini tidak lagi mempertanyakan arah kebijakan Indonesia. Fokus penilaiannya bergeser ke bagaimana pemerintah memastikan kebijakan tetap dijalankan dalam koridor yang prudent.
Dengan kombinasi kebijakan moneter BI dan disiplin fiskal pemerintah, rupiah dinilai masih memiliki peluang membaik jika tekanan eksternal mereda. Sampai saat itu terjadi, pasar akan terus mencermati arah harga minyak, sentimen global, dan respons BI terhadap volatilitas valuta asing.
