Pertumbuhan premi asuransi jiwa kembali menguat pada Mei 2026, dan industri kini berusaha menjaga momentum itu tetap hidup hingga akhir tahun. Tantangannya tidak ringan, karena target OJK sebesar 3%–6% harus dicapai di tengah tekanan daya beli, inflasi, dan volatilitas ekonomi.
Data OJK menunjukkan premi asuransi jiwa tumbuh 5,87% year on year menjadi Rp76,79 triliun dalam lima bulan pertama 2026. Setelah sempat terkontraksi 0,14% pada Maret dan naik 3,28% pada April, industri mencatat dua bulan berturut-turut pertumbuhan tahunan yang memberi sinyal pemulihan.
Penggerak Pemulihan Premi
PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life menilai perbaikan ini ditopang oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan finansial dan makin kuatnya kerja sama perusahaan asuransi dengan perbankan serta institusi keuangan lainnya. Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso juga menyebut inovasi produk dan pemanfaatan teknologi digital ikut membantu memperluas akses layanan.
“Kedua, semakin kuatnya kolaborasi antara perusahaan asuransi dengan perbankan dan berbagai institusi keuangan yang memperluas jangkauan distribusi produk kepada masyarakat,” ujar Hengky kepada Bisnis, Selasa (14/7/2026).
Kinerja Ciputra Life sendiri ikut mencerminkan tren tersebut. Hingga Juni 2026, perusahaan membukukan pendapatan premi Rp387 miliar, tumbuh 53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
| Perusahaan | Periode | Pendapatan Premi | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Ciputra Life | Hingga Juni 2026 | Rp387 miliar | 53% |
| BCA Life | Semester I/2026 | Rp1,38 triliun | 36,14% |
Strategi Menjaga Pertumbuhan di Semester II/2026
Hengky mengatakan fokus utama Ciputra Life pada semester II/2026 adalah menjaga pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan. Perusahaan akan memperkuat portofolio bisnis, memperluas kemitraan distribusi, dan mengoptimalkan kerja sama dengan lebih dari 20 bank, perusahaan multifinance, serta institusi keuangan lain.
Selain memperluas kanal distribusi, Ciputra Life juga akan mendorong inovasi produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah. Perseroan menaruh perhatian besar pada pengalaman nasabah melalui teknologi digital agar layanan makin mudah, cepat, dan efisien.
Di sisi lain, perusahaan tetap mencermati risiko dari dinamika geopolitik global, volatilitas nilai tukar, tekanan inflasi, arah suku bunga, dan kondisi daya beli masyarakat. Karena itu, Hengky menegaskan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam mengelola bisnis agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan.
BCA Life Ikut Andalkan Digital dan Distribusi
PT Asuransi Jiwa BCA atau BCA Life juga menyiapkan langkah serupa untuk menjaga kinerja. Presiden Direktur & CEO BCA Life Eva Agrayani mengatakan perusahaan akan memperkuat sinergi dengan BCA Group, memperluas kanal distribusi, mengakselerasi transformasi digital, dan meningkatkan literasi keuangan serta asuransi.
“Kemudian, memperkuat kanal distribusi, mengakselerasi transformasi digital, serta meningkatkan literasi keuangan dan asuransi agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang memperoleh perlindungan yang optimal,” kata Eva dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu (15/7/2026).
BCA Life mencatat pendapatan premi Rp1,38 triliun pada semester I/2026, tumbuh 36,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu juga diikuti perbaikan di sisi aset, investasi, laba, dan pembayaran klaim.
| Indikator BCA Life | Semester I/2026 | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Total aset | Rp5,44 triliun | 34,67% |
| Nilai investasi | Rp5,01 triliun | 38,32% |
| Laba setelah pajak | Rp53,68 miliar | 53,75% |
| Klaim dan manfaat | Rp277,38 miliar | 26,76% |
| RBC | 416,14% | Di atas ketentuan minimum 120% |
Eva mengatakan capaian itu menunjukkan fundamental keuangan perusahaan semakin solid. Rasio solvabilitas atau risk based capital BCA Life juga berada jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 120%.
Prospek Industri Masih Terbuka
Pengamat asuransi Wahyudin Rahman menilai target pertumbuhan premi 3%–6% pada 2026 masih realistis, meski keberhasilannya bergantung pada kondisi ekonomi dan kemampuan industri menjaga kualitas underwriting. Ia menyebut momentum dua bulan berturut-turut pertumbuhan premi menjadi sinyal positif, tetapi daya beli dan beban klaim tetap harus diwaspadai.
Wahyudin menyarankan perusahaan asuransi fokus pada produk yang sesuai kebutuhan masyarakat, memperkuat kanal digital dan bancassurance, serta menjaga persistensi polis dan kualitas layanan. Menurutnya, pertumbuhan premi harus tetap sejalan dengan profitabilitas agar tidak hanya besar di angka, tetapi juga sehat secara bisnis.
OJK sendiri optimistis pendapatan premi industri asuransi akan tumbuh stabil dan terukur pada 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan penguatan kualitas produk, tata kelola, manajemen risiko, dan relevansi perlindungan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
