Investasi Semester I 2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun, Hong Kong Salip Singapura

Author: Qoo Media

Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 masih melaju meski dunia belum lepas dari tekanan geopolitik dan geoekonomi. Nilainya mencapai Rp1.010,6 triliun, setara 49,5% dari target tahunan Rp2.041,3 triliun.

Capaian itu juga tumbuh 7,2% secara tahunan dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Pemerintah menilai tren tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga, terutama di tengah situasi global yang belum stabil.

Komposisi Modal dan Persebaran Wilayah

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan data itu dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Kamis (16/7). Ia menegaskan komitmen investor asing masih berjalan sejalan dengan target pemerintah.

Komponen Nilai Porsi
Total investasi Rp1.010,6 triliun 49,5%
PMDN Rp502,9 triliun 49,8%
PMA Rp507,6 triliun 50,2%
Jawa Rp502,8 triliun 49,8%
luar Jawa Rp507,8 triliun 50,2%

Distribusi investasi kini juga terlihat makin seimbang antara Jawa dan luar Jawa. DKI Jakarta masih menjadi tujuan terbesar dengan kontribusi 17,2% dari total realisasi, disusul Jawa Barat Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.

Untuk investasi asing, wilayah luar Jawa semakin dominan, terutama Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau. Ketiga daerah itu banyak menerima investasi di sektor mineral.

Sektor yang Menarik Dana Terbesar

Dari sisi usaha, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya masih menjadi penyumbang terbesar. Sektor itu membukukan Rp150,4 triliun atau 14,9% dari total investasi semester I 2026.

Sektor Nilai Porsi
Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya Rp150,4 triliun 14,9%
Jasa lainnya, termasuk data center Rp114 triliun 11,3%
Pertambangan Rp105 triliun
Transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi Sekitar 10,2%
Kawasan industri dan perkantoran Rp85,5 triliun

MediaIndonesia.com mencatat bahwa jasa lainnya yang didominasi pembangunan pusat data juga menyumbang porsi besar. Setelah itu, pertambangan, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, serta kawasan industri dan perkantoran ikut menopang realisasi investasi.

Hong Kong Ambil Alih Puncak Kuartal II

Dari negara asal modal, Singapura masih menjadi investor terbesar Indonesia sepanjang semester I 2026 dengan nilai US$8,8 miliar. Hong Kong menyusul dengan US$7,8 miliar, Tiongkok US$3,9 miliar, Jepang US$1,9 miliar, dan Amerika Serikat US$1,7 miliar.

Namun, pada triwulan II 2026 terjadi pergeseran menarik. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Hong Kong menjadi investor terbesar dalam satu triwulan dengan nilai US$5,5 miliar, melampaui Singapura.

Rosan menyebut perubahan itu terjadi karena investasi Tiongkok kini lebih agresif melalui Hong Kong. Ia menilai minat investor asing tetap terjaga karena perbaikan iklim usaha, penyederhanaan regulasi, serta kepastian perizinan yang terus didorong pemerintah.

Hilirisasi Makin Menguat

Investasi hilirisasi juga mengambil porsi yang semakin besar. Pada semester I 2026, kontribusinya mencapai 29,7% dari total investasi nasional, naik 6,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka itu makin menegaskan kenaikan peran hilirisasi dibanding beberapa tahun lalu, ketika porsinya masih sekitar 24-25% pada 2023. Saat ini hilirisasi masih didominasi sektor mineral senilai Rp206,5 triliun, disusul perkebunan dan kehutanan Rp54,4 triliun, minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun.

Komoditas Hilirisasi Nilai Catatan
Mineral Rp206,5 triliun Terbesar
Perkebunan dan kehutanan Rp54,4 triliun
Minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun
Perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun

Sebanyak 75,7% investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa, terutama di Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat. Pada triwulan II 2026 saja, realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau naik 7,1% dan menyerap 742.263 tenaga kerja.

Shifting dari Nikel ke Bauksit

Rosan juga menyoroti pergeseran komoditas utama dalam proyek hilirisasi. Jika nikel biasanya berada di posisi teratas, triwulan II 2026 justru menunjukkan bauksit naik ke peringkat pertama seiring pembangunan industri pengolahannya.

Pemerintah menegaskan hilirisasi tak akan berhenti di mineral. Ke depan, arah kebijakan juga akan diperluas ke kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, hingga minyak dan gas bumi agar nilai tambah ekonomi yang dihasilkan semakin besar.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru