Pemerintah dan DPR masih menggodok aturan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), tetapi minat dari investor asing mulai dibangun lebih awal. Danantara sudah membuka komunikasi dengan sejumlah calon mitra luar negeri untuk mengisi proyek pusat finansial yang rencananya dibangun di Bali.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyebut percakapan dengan investor asing sudah berlangsung untuk membaca minat mereka. Menurut dia, banyak mitra yang diajak bekerja sama memang tengah mencari lokasi financial center lain di luar pusat-pusat keuangan yang sudah mapan.
Fokus pada kepastian hukum dan daya tarik lokasi
Pandu menjelaskan, calon investor menaruh perhatian besar pada tiga hal utama: kepastian sistem hukum, rezim fiskal yang kompetitif, dan lokasi yang menarik. Ia menegaskan bahwa sistem legal yang pasti dan berkelanjutan menjadi syarat penting, dengan model common law disebut sebagai salah satu acuan yang relevan.
Selain itu, Abu Dhabi menjadi salah satu rujukan sistem yang akan dijalankan PFII. Masukan dari para calon investor juga banyak menyentuh aspek hukum di kawasan ekonomi khusus yang akan menjadi basis pengembangan pusat finansial tersebut.
| Faktor yang Dicari Investor | Keterangan |
|---|---|
| Kepastian hukum | Sistem legal yang pasti dan berkelanjutan, dengan acuan common law |
| Rezim fiskal | Harus kompetitif agar menarik bagi investor |
| Daya tarik lokasi | Tempat harus menarik dan nyaman dikunjungi |
| Rujukan sistem | Abu Dhabi menjadi salah satu contoh yang dilihat |
PFII disiapkan di kawasan khusus Bali
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, PFII akan dibangun di kawasan khusus di Bali dan ditargetkan memiliki aturan yang rampung sebelum 16 Agustus 2026. Pemerintah juga menyiapkan dasar aturan pendukung secara paralel agar pengembangan kawasan itu bisa berjalan lebih terarah.
Airlangga menegaskan, kawasan tersebut akan berdiri sebagai Kawasan Ekonomi Khusus baru dan bukan memakai KEK Sanur yang sudah ada. Ia menyebut, “Dibangun KEK, bukan di KEK Sanur, ada KEK tersendiri,” saat menjelaskan rencana itu di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.
Kenapa Bali dipilih
Airlangga menilai Bali punya ekosistem lifestyle yang cocok untuk sebuah financial center. Ia membandingkan pendekatan itu dengan kawasan tertentu di Dubai, yang menawarkan suasana tidak terlalu sibuk namun tetap mendukung aktivitas bisnis dan pertemuan investor.
Fasilitas kesehatan berstandar global juga disebut sudah bisa ditopang oleh KEK Sanur bila dibutuhkan para investor. Di sisi lain, pemerintah ingin menyiapkan kerangka hukum dan insentif yang setara dengan Singapura maupun Dubai agar proyek ini punya posisi kompetitif di mata pasar internasional.
Dalam penjelasan yang dikutip www.liputan6.com, Airlangga juga menekankan bahwa Bali punya keunggulan yang tidak dimiliki banyak pusat finansial lain, mulai dari pantai hingga tarian. Kombinasi itu dipandang dapat menjadi nilai tambah untuk menarik orang datang sekaligus membangun ekosistem keuangan internasional yang berbeda.
WAMF_CONTENT_HTML_0vvsu8jg
