PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN tengah menjajaki dua aksi korporasi bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF. Salah satu agenda yang dibahas adalah penerbitan obligasi terkait perumahan yang berpotensi menjadi instrumen modal tier 2.
Rencana tersebut menjadi perhatian karena dibahas saat BTN mencatat pertumbuhan laba, kredit, aset, dan dana pihak ketiga pada semester I/2026. Jika terealisasi, obligasi tier 2 itu ditargetkan dapat dilakukan pada semester II/2026.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan pembicaraan dengan SMF mencakup dua skema. “Apakah ada aksi korporasi? Jawabannya kita sedang membicarakan bersama SMF, ada dua,” ujar Nixon dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Semester I/2026 di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Skema pertama yang dijajaki berupa sekuritisasi dengan nilai sekitar Rp300 miliar hingga Rp400 miliar. Skema kedua adalah pembelian obligasi terkait perumahan yang akan diterbitkan oleh BTN.
Dua Skema yang Sedang Dibahas
| Rencana Kerja Sama | Nilai atau Target | Status |
|---|---|---|
| Sekuritisasi | Sekitar Rp300 miliar–Rp400 miliar | Dalam pembahasan bersama SMF |
| Pembelian obligasi perumahan BTN | Obligasi modal tier 2 | Dibidik pada semester II/2026 jika terealisasi |
Nixon menegaskan pembahasan kedua agenda tersebut masih berjalan. “Itu sedang kita bahas, tapi saya minta bonds-nya tier-2 capital itu kalau jadi akan kita lakukan di semester II/2026,” katanya.
Keterlibatan SMF menempatkan rencana ini dalam konteks pembiayaan perumahan, yang selama ini menjadi basis utama bisnis BTN. Sekuritisasi dan obligasi perumahan menjadi dua agenda berbeda yang sama-sama masih berada pada tahap penjajakan.
Kinerja BTN Menguat pada Semester I/2026
Di tengah pembahasan aksi korporasi tersebut, BTN membukukan laba bersih konsolidasi Rp2,40 triliun hingga semester I/2026. Angka itu tumbuh 40,8% secara tahunan atau year on year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan juga terlihat pada kredit dan pembiayaan konsolidasi yang mencapai Rp418,11 triliun. Nilainya naik 11,2% secara tahunan dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
| Indikator | Semester I/2026 | Pertumbuhan Tahunan |
|---|---|---|
| Laba bersih konsolidasi | Rp2,40 triliun | 40,8% |
| Kredit dan pembiayaan konsolidasi | Rp418,11 triliun | 11,2% |
| Total aset konsolidasi | Rp545,16 triliun | 12,4% |
| Dana Pihak Ketiga | Rp433,00 triliun | 6,6% |
Menurut data yang dipaparkan BTN dan dikutip finansial.bisnis.com, kredit perumahan tercatat Rp332,88 triliun per Juni 2026. Nilai tersebut meningkat 4,8% secara tahunan dari Rp317,77 triliun.
Di luar pembiayaan perumahan, kredit non-perumahan tumbuh lebih tinggi. Portofolio ini melonjak 46,1% secara tahunan dari Rp58,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp85,22 triliun pada Juni 2026.
Total aset konsolidasi BTN juga meningkat menjadi Rp545,16 triliun pada semester I/2026. Posisi tersebut naik 12,4% secara tahunan dari Rp484,96 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dana Murah Dijaga di Tengah Ekspansi
Dari sisi pendanaan, BTN menghimpun Dana Pihak Ketiga atau DPK sebesar Rp433,00 triliun per semester I/2026. Nilainya tumbuh 6,6% secara tahunan dari Rp406,38 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
BTN juga melanjutkan upaya memperkuat struktur dana murah untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. Inisiatif yang dilakukan mencakup akuisisi dana ritel, peningkatan transaksi digital, penguatan payroll, serta perluasan kerja sama dengan pemerintah daerah dan institusi.
Berbagai langkah tersebut membuat cost of fund BTN berada di kisaran 3,01% sepanjang semester I/2026. Struktur pendanaan ini menjadi salah satu fondasi ketika perseroan membahas sekuritisasi dan obligasi perumahan bersama SMF.
Source: finansial.bisnis.com






