Emas Tertahan di US$ 4.000, Sentimen Wall Street Berubah Makin Pesimistis

Author: Qoo Media

Prospek harga emas pada pekan ini dibayangi tekanan setelah logam mulia tersebut beberapa kali menguji area support US$ 4.000. Mayoritas analis Wall Street dalam survei mingguan Kitco justru memperkirakan harga akan melemah dalam jangka pendek.

Sentimen tersebut muncul ketika data ekonomi AS dinilai positif dan ekspektasi kenaikan suku bunga masih bertahan. Di saat yang sama, konflik di Timur Tengah serta risiko lonjakan harga energi membuat arah pasar emas tetap sulit dipastikan.

Mayoritas Analis Memproyeksikan Penurunan

Dalam Survei Emas Mingguan Kitco News, 14 analis Wall Street memberikan pandangan untuk perdagangan pekan ini. Sebanyak 11 analis atau 79% memprediksi harga emas turun, sementara hanya satu analis atau 7% yang memperkirakan kenaikan.

Kelompok Survei Naik Turun Datar/Konsolidasi
Wall Street, 14 analis 1 analis (7%) 11 analis (79%) 2 analis (14%)
Investor ritel, 169 suara 68 suara (40%) 61 suara (36%) 40 suara (24%)

Jajak pendapat daring Kitco memperlihatkan investor ritel juga belum memiliki keyakinan kuat terhadap arah berikutnya. Meski kelompok yang memperkirakan kenaikan berjumlah 40%, sebagian pelaku pasar masih melihat kemungkinan harga bergerak konsolidatif.

Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menilai emas dapat bergerak dalam kisaran tertentu tanpa perubahan besar. Menurut dia, terobosan ke atas kemungkinan belum terjadi sebelum sentimen pasar berubah jelas menjadi tidak mendukung kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Adrian Day juga melihat adanya pembelian kuat dari bank sentral pada level harga saat ini. Permintaan tersebut dinilainya dapat menjadi penopang ketika harga emas berada di area support.

US$ 4.000 Menjadi Area yang Diawasi

Presiden dan COO Asset Strategies International, Rick Checkan, berada di kubu yang lebih optimistis terhadap harga emas. Ia mengatakan level US$ 4.000 telah diuji beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir dan masih menarik minat beli baru.

“Level tersebut harus bertahan. Saya percaya itu akan terjadi lagi,” kata Checkan, yang menilai pasar mungkin belum siap untuk kenaikan berkelanjutan tetapi harga berpeluang bergerak lebih tinggi dari area support itu.

Namun, Head of Currency Strategy Investinglive, Adam Button, melihat risiko negatif dari pelemahan saham teknologi. Ia memperingatkan penurunan sektor tersebut dapat memicu aksi jual yang lebih luas di berbagai aset.

Analis FxPro, Alex Kuptsikevich, juga memperkirakan emas melemah pada pekan ini setelah kenaikan tipis sebelumnya masih melanjutkan tren penurunan. Menurutnya, koreksi berulang di bawah US$ 4.000 belum memicu kapitulasi penuh karena pembelian dapat meningkat saat harga mendekati level bulat penting tersebut.

Geopolitik dan Data Ekonomi Menjadi Penentu

Head of FX and Commodity Research Commerzbank, Thu Lan Nguyen, menilai ruang kenaikan emas dalam jangka pendek tetap terbatas. Eskalasi konflik Timur Tengah dan potensi lonjakan harga energi dinilai dapat membuat ekspektasi kenaikan suku bunga bertahan lebih lama.

Kuptsikevich bahkan memproyeksikan koreksi lebih lanjut menuju US$ 3.300 pada September, meski tetap membuka peluang pemulihan jangka pendek. Risiko penurunan dapat membesar bila kekecewaan terhadap imbal hasil perusahaan terkait AI meningkat dan pasokan saham maupun obligasi mereka bertambah di pasar.

Pekan ini diperkirakan relatif sepi dari agenda ekonomi besar sehingga sentimen geopolitik berpotensi lebih dominan menggerakkan pasar. Pelaku pasar akan mencermati keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa pada Kamis, lalu data klaim pengangguran mingguan, S&P Global Flash PMI Juli, serta penjualan rumah baru Juni pada Jumat.

Source: www.liputan6.com
Terbaru