Bank Nagari mencatat pertumbuhan laba bersih pada semester I/2026 di tengah penurunan penyaluran kredit, aset, dan dana simpanan. Laba bersih bank ini mencapai Rp243,66 miliar, naik 5,22% secara tahunan dari Rp231,58 miliar pada semester I/2025.
Perbaikan margin bunga dan kenaikan pendapatan lain menjadi penopang utama kinerja tersebut. Namun, angka intermediasi menunjukkan tantangan karena kredit serta dana pihak ketiga masih berada di bawah posisi setahun sebelumnya.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan yang dimuat di harian Bisnis Indonesia, pendapatan bunga bersih Bank Nagari mencapai Rp967,37 miliar hingga Juni 2026. Nilai itu tumbuh 7,00% dibandingkan Rp904,07 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan lainnya juga meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan bunga bersih. Pos ini naik 22,45% secara tahunan menjadi Rp115,68 miliar, dari Rp94,47 miliar pada semester I/2025.
Kenaikan dua sumber pendapatan tersebut membantu menjaga pertumbuhan laba ketika aktivitas penghimpunan dan penyaluran dana melemah. Laba tahun berjalan sebelum pajak tercatat Rp312,38 miliar hingga akhir Juni 2026.
Ringkasan Kinerja Semester I/2026
| Indikator | Semester I/2026 | Perubahan Tahunan |
|---|---|---|
| Laba bersih | Rp243,66 miliar | Naik 5,22% |
| Pendapatan bunga bersih | Rp967,37 miliar | Naik 7,00% |
| Kredit | Rp20,39 triliun | Turun 2,42% |
| Dana pihak ketiga | Rp26,31 triliun | Turun 2,70% |
| Aset | Rp33,04 triliun | Turun 1,05% |
Dari sisi keuntungan usaha, laba operasional Bank Nagari tumbuh tipis 0,57% menjadi Rp263,42 miliar. Sementara itu, laba nonoperasional meningkat 40,01% secara tahunan menjadi Rp48,96 miliar.
Di sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan hingga Juni 2026 tercatat Rp20,39 triliun. Angka itu lebih rendah 2,42% dibandingkan posisi Juni 2025 yang mencapai Rp20,90 triliun.
Aset perseroan juga mengalami penurunan tipis menjadi Rp33,04 triliun. Pada Juni 2025, total aset Bank Nagari masih berada di level Rp33,39 triliun.
DPK Turun, Dana Murah Bertambah
Total dana pihak ketiga atau DPK yang dihimpun Bank Nagari mencapai Rp26,31 triliun pada semester I/2026. Posisi itu turun 2,70% dibandingkan Rp27,04 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Penurunan DPK terutama terjadi pada simpanan deposito yang menyusut 12,50% secara tahunan. Deposito tercatat Rp13,57 triliun, turun dari Rp15,51 triliun pada semester I/2025.
Meski deposito berkurang, dana murah yang dihimpun perseroan justru bertambah. Nilainya naik 10,48% dari Rp11,53 triliun menjadi Rp12,74 triliun dalam satu tahun.
Perubahan komposisi pendanaan ini sejalan dengan peningkatan net interest margin atau NIM Bank Nagari. NIM naik dari 5,81% pada semester I/2025 menjadi 6,17% pada semester I/2026.
Efisiensi operasional juga membaik, tercermin dari rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional atau BOPO. Rasio tersebut turun dari 83,52% menjadi 82,87%.
Modal Menguat, NPL Naik
Dari sisi permodalan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum atau KPMM meningkat dari 22,09% menjadi 22,63%. Kenaikan ini menunjukkan bantalan modal perseroan bertambah pada periode pelaporan.
Di saat yang sama, kualitas kredit perlu menjadi perhatian karena rasio kredit bermasalah meningkat. NPL gross naik dari 2,15% menjadi 2,76%, sedangkan NPL net bertambah dari 0,55% menjadi 0,89%.
Data keuangan tersebut menunjukkan pertumbuhan laba Bank Nagari pada semester I/2026 terutama ditopang pendapatan bunga bersih, pendapatan lain, dan perbaikan efisiensi. Namun, penurunan kredit dan DPK serta kenaikan NPL menjadi indikator yang menyertai capaian laba tersebut.
