Bank Oke Targetkan Pertumbuhan DPK 8% di 2025 Sambil Tekan Biaya Dana

PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) berkomitmen untuk meningkatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 6–8% per tahun hingga akhir 2025. Target ini merupakan bagian dari strategi untuk menekan biaya dana (cost of fund) dan meningkatkan efisiensi pendanaan. Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, mengatakan bahwa bank ini telah merancang sejumlah langkah strategis untuk mencapai target tersebut.

Dalam upaya meningkatkan DPK, Bank Oke akan menawarkan produk-produk yang kompetitif dengan penyesuaian suku bunga simpanan secara selektif. Hal ini dapat memberikan daya tarik bagi nasabah untuk menyimpan dananya di Bank Oke. Selain itu, digitalisasi layanan juga menjadi fokus utama, dengan peningkatan fitur-fitur dalam layanan digital banking seperti mobile banking dan internet banking. Langkah ini bertujuan untuk mempermudah nasabah dalam melakukan transaksi dan pembukaan rekening secara daring.

Bank Oke juga aktif mengimplementasikan program loyalitas dan kampanye pemasaran. Berbagai inisiatif seperti cashback, undian berhadiah, dan bundling produk simpanan dengan layanan lain, diharapkan dapat menarik lebih banyak nasabah. Sinergi lintas unit bisnis juga menjadi pilar penting dalam mendorong pertumbuhan DPK berbasis transaksi dan payroll, dengan peningkatan rasio CASA (current account saving account) sebagai fokus utama untuk meningkatkan likuiditas berbiaya rendah.

Namun, pertumbuhan DPK di sektor perbankan secara umum mengalami pelambatan. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan DPK telah melambat menjadi 3,9% YoY hingga Mei 2025, dengan total DPK mencapai Rp8.756,5 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan sebelumnya yang tercatat 4,4% YoY. Penurunan ini mencerminkan tren melambat yang juga terjadi pada segmen korporasi dan perorangan.

Dalam segmen DPK korporasi, pertumbuhan tercatat sebesar 7,7% YoY hingga mencapai Rp4.225,4 triliun, tetapi angka ini menurun dari bulan sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan 9,5%. Di sisi lain, DPK perorangan mengalami kontraksi, dengan total simpanan turun dari Rp4.085,5 triliun pada April menjadi Rp4.062,6 triliun pada Mei 2025.

Dari komponen simpanan, pertumbuhan dana murah yang mencakup giro dan tabungan juga menunjukkan penurunan. Giro tumbuh 4,1% YoY menjadi Rp2.676,4 triliun hingga Mei, sedangkan tabungan mengalami peningkatan 5,6% YoY menjadi Rp2.875,8 triliun. Namun, dibandingkan dengan periode sebelumnya, angka tersebut menunjukkan pelambatan, di mana pada April 2025, giro tumbuh 4,9% YoY, dan tabungan tumbuh 6,3% YoY.

Meskipun simpanan berjangka atau deposito menunjukkan pelambatan yang tidak signifikan, pertumbuhannya tetap terbatas, dengan kenaikan hanya 2,2% YoY menjadi Rp3.204,2 triliun pada Mei 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menyoroti bahwa fluktuasi dalam penghimpunan DPK bank di awal tahun 2025 dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ini termasuk realisasi anggaran pemerintah, kebutuhan perusahaan untuk membayar tunjangan hari raya dan dividen, serta perilaku masyarakat yang cenderung konservatif dalam menyimpan dananya. Dian menambahkan bahwa volatilitas pasar keuangan yang tinggi juga berkontribusi terhadap perilaku ini.

Secara keseluruhan, strategi Bank Oke untuk mengejar pertumbuhan DPK hingga 8% di 2025 mencerminkan respons terhadap banyak tantangan di sektor perbankan. Dengan inovasi layanan dan penawaran produk yang kompetitif, diharapkan dapat mendorong minat masyarakat untuk menyimpan dana di bank tersebut dalam memenuhi tantangan yang ada.

Terkait