Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan komitmen tiga produsen otomotif asal Jepang, yaitu Toyota, Suzuki, dan Daihatsu, untuk tidak menaikkan harga jual kendaraan dan mempertahankan tenaga kerja di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan saat menghadiri World Expo 2025 di Osaka, Jepang, pada tanggal 11 Juli 2023.
Agus Gumiwang menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan pekerjaan di sektor otomotif, yang merupakan salah satu penopang ekonomi nasional. “Saya mengkhawatirkan potensi gejolak di sektor otomotif nasional jika terjadi lonjakan harga atau pengurangan tenaga kerja,” ujarnya. Oleh karena itu, ia secara khusus meminta ketiga perusahaan tersebut untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam menghadapi tantangan global saat ini.
Menanggapi permintaan tersebut, petinggi dari Toyota, Suzuki, dan Daihatsu menyatakan dukungan mereka. Mereka memahami kekhawatiran pemerintah dan berkomitmen untuk menjaga harga tetap stabil serta mempertahankan jumlah tenaga kerja. Komitmen ini diapresiasi oleh Menperin sebagai langkah konkret untuk mendukung stabilitas industri otomotif di Indonesia.
Pentingnya Pasar Otomotif Domestik
Dalam pertemuan tersebut, Menperin juga menekankan pentingnya menjaga pasar otomotif domestik agar tetap atraktif dan kompetitif. Ia menyampaikan bahwa pemerintah sedang melakukan berbagai langkah deregulasi dan memberikan insentif fiskal guna mendorong investasi di sektor ini. “Pasar otomotif Indonesia sangat potensial. Jangan sampai kehilangan momentum hanya karena kenaikan harga atau pengurangan tenaga kerja,” tegasnya.
Industri kendaraan bermotor di Indonesia, baik roda empat maupun dua, memiliki skala besar dan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Segmen roda empat didukung oleh 32 pabrikan dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 2,35 juta unit, menyerap tenaga kerja sebanyak 69.390 orang, dan realisasi investasi mencapai Rp143,91 triliun. Di sisi lain, segmen roda dua dan tiga didukung oleh 73 pabrikan dengan total kapasitas produksi sebesar 10,72 juta unit per tahun.
Tanggapan dari Suzuki dan Toyota
Dalam diskusi dengan Osamu Suzuki, Chairman Suzuki Motor Corporation, Menperin mendengarkan curahan hati mengenai penurunan penjualan kendaraan niaga ringan di Indonesia. Suzuki, meskipun menghadapi tantangan, tetap berkomitmen untuk mendukung pasar Indonesia dan menghargai arahan Menperin untuk tidak melakukan PHK.
Menperin pun mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengevaluasi kebijakan untuk merangsang permintaan kendaraan niaga, termasuk melalui pembelian pemerintah daerah dan insentif fiskal untuk pelaku UMKM.
Sementara itu, perwakilan Toyota menyampaikan aspirasi mereka terkait relaksasi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk kendaraan hybrid. Beberapa model, seperti Kijang Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross, sudah mencapai TKDN di atas 40%. Namun, mereka mengusulkan agar regulasi TKDN diubah menjadi lebih fleksibel untuk kendaraan rendah emisi, guna menarik investasi dan mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan.
Menperin menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan pemerintah terbuka untuk membahas relaksasi TKDN secara selektif, tanpa mengabaikan arah kebijakan industrialisasi dalam negeri.
Optimisme ke Depan
Menperin optimistis bahwa langkah-langkah antisipatif ini akan mendapatkan respons positif dari masyarakat dan pelaku industri. Hal ini diharapkan dapat menjadi sinyal kepastian dan dukungan pemerintah untuk keberlangsungan industri otomotif nasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Dengan upaya menjaga daya beli masyarakat dan lapangan kerja, Indonesia berharap dapat mempertahankan momentum pertumbuhan yang telah dicapai dalam sektor otomotif.





