Rupiah menguat pada perdagangan pasar spot dan sempat berada di level Rp 17.776 per dolar AS pada Senin pagi. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen positif setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026.
Berdasarkan data pasar, rupiah menguat 84 poin atau 0,47 persen dari posisi sebelumnya di Rp 17.860 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih merespons cukup cepat setiap perubahan ekspektasi terhadap prospek ekonomi domestik.
Proyeksi Bank Dunia menjadi sorotan pasar
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai revisi proyeksi Bank Dunia memberi sinyal bahwa prospek ekonomi Indonesia dinilai lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Dalam riset hariannya, ia menyebut revisi terbaru itu lebih tinggi dibanding estimasi Bank Dunia pada April 2026 yang masih berada di level 4,7 persen.
Bank Dunia melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen pada 2026 ditopang oleh kinerja kuartal pertama yang lebih kuat dari dugaan awal. Momentum itu tercermin dari pertumbuhan PDB yang mencapai 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026.
Konsumsi rumah tangga masih jadi penopang utama
Kuatnya pertumbuhan pada awal tahun terutama ditopang konsumsi rumah tangga. Dorongan itu datang dari momen Ramadan dan Idul Fitri, pembayaran THR pegawai negeri sipil yang dipercepat, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sepanjang 2026, konsumsi swasta diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5,0 persen dengan dukungan stimulus fiskal pemerintah. Di sisi lain, konsumsi pemerintah diproyeksikan tumbuh lebih tinggi dan mencapai 8,7 persen.
Investasi dan risiko yang tetap membayangi
Dari sisi pembentukan modal tetap bruto, Bank Dunia mencatat pertumbuhan yang solid sebesar 6,0 persen pada kuartal I-2026. Angka ini menambah sinyal bahwa aktivitas ekonomi masih cukup terjaga di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.
Meski begitu, Bank Dunia juga mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap konsumsi sebagai penyangga pertumbuhan jangka pendek menyimpan risiko. Ruang fiskal yang semakin terbatas menjadi salah satu perhatian utama dalam menjaga daya tahan ekonomi.
Risiko lain datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengerek harga minyak global. Selain itu, pasar keuangan domestik juga masih rawan terguncang oleh sentimen dari pengumuman evaluasi indeks MSCI.
Rupiah masih diperkirakan fluktuatif
Di tengah kombinasi sentimen itu, rupiah dipandang masih akan bergerak naik turun. Ibrahim memperkirakan pergerakan mata uang domestik tetap fluktuatif, dengan potensi ditutup melemah pada rentang Rp 17.860-Rp 17.910.
Pergerakan rupiah ke Rp 17.776 mencerminkan adanya respons positif pasar terhadap revisi proyeksi ekonomi, namun tekanan eksternal masih belum hilang. Arah rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada kekuatan sentimen domestik, respons investor, dan perkembangan risiko global yang terus dipantau pasar.
Source: www.viva.co.id






