NTB Manfaatkan Biomassa untuk Ubah Gunung Sampah Jadi Energi Terbarukan

Melalui inisiatif yang inovatif, Nusa Tenggara Barat (NTB) memanfaatkan biomassa untuk mengubah tumpukan sampah menjadi sumber energi. Program ini dilaksanakan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang dengan kolaborasi antara PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTB, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta UPT Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kebon Kongok. Tujuannya tidak hanya untuk menciptakan lingkungan yang bersih, namun juga mendukung target bauran energi terbarukan nasional.

Inisiatif ini muncul sejak awal 2020 dalam proyek bernama Jeranjang Olah Sampah Setempat (JOSS). Radyus Ramli Hindarman, kepala UPT TPA Kebon Kongok, menjelaskan bahwa proyek ini berawal dari penelitian dan pengembangan dengan fokus pada produksi bahan bakar alternatif seperti solid recovered fuel (SRF). Proyek ini menunjukkan bahwa dari tumpukan sampah yang dulu dianggap sebagai beban, kini bisa menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan.

Selama dua tahun, tim peneliti mengeksplorasi komposisi biomassa yang tepat untuk diterima oleh PLTU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PLTU mampu mengolah hingga 95% sampah organik, seperti daun dan ranting, serta 5% sampah non-organik. Dengan fokus pada sampah organik, hasilnya lebih cocok sebagai SRF, berbeda dengan refuse derived fuel (RDF) yang lebih heterogen.

Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari kerja sama lintas sektor. Dalam proses litbang, terdapat nota kesepahaman antara Pemprov NTB, PLN, dan mitra lainnya. “PLN menyediakan semua peralatan listrik dan bahan baku untuk biomassa, sementara TPA memberikan tenaga kerja,” tambah Radyus.

Kementerian PUPR juga berkontribusi dengan menyediakan alat, seperti mesin pencacah dan penghalus kayu. Dengan alat tersebut, proses pengolahan biomassa menjadi lebih efisien. “Saat ini, kami bahkan bisa mengolah batang pohon,” ungkap Radyus.

Namun, tantangan tetap ada. Pemilahan sampah yang masuk menjadi isu utama. Sampah yang tidak terpilah menyebabkan tambahan waktu dan biaya dalam proses pemilahan. Untuk mengatasi masalah ini, TPA Kebon Kongok telah mengusulkan agar sampah yang sudah terpilah tidak dikenakan kompensasi jasa pelayanan oleh pemerintah kabupaten/kota.

Demi menjaga ketersediaan bahan baku, TPA melakukan pengambilan langsung dari masyarakat. “Masyarakat di sekitar kami bisa menghubungi untuk pengangkutan jika ada penebangan atau perantingan,” ujar Radyus. Saat ini, produksi biomassa di TPA Kebon Kongok mencapai 10 ton per hari dengan kebutuhan bahan baku sekitar 5 ton per hari.

Namun, produksi ini masih jauh dari target yang diharapkan. Radyus menyatakan bahwa PLN mengharapkan 5% dari kebutuhan bahan bakar mereka berasal dari biomassa. PLTU Jeranjang mencatat kebutuhan batu bara sekitar 2.000 ton per hari, yang berarti sekitar 100 ton per hari seharusnya berasal dari biomassa. Nyatanya, produksi saat ini hanya mencapai 100 ton per bulan.

Meski volume sampah yang masuk mencapai 350 ton per hari, masih banyak potensi yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. “Kami membutuhkan sistem pemilahan yang lebih efektif untuk mengoptimalkan potensi energi dari sampah,” tutup Radyus.

Inisiatif ini menciptakan harapan baru dalam pengelolaan sampah di NTB sekaligus mendukung transisi menuju sumber energi terbarukan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pengembangan lebih lanjut diharapkan dapat meningkatkan produksi biomassa dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Terkait