Produksi Padi Indonesia Kalah dari Vietnam, Imbas Ketergantungan Pupuk Kimia?

Produksi padi nasional Indonesia masih tertinggal dari Vietnam, yang menimbulkan kekhawatiran terkait praktik pertanian di dalam negeri, salah satunya ketergantungan pada pupuk kimia. Data menunjukkan bahwa produktivitas padi di Indonesia mencapai rata-rata 5,2 ton per hektar, sementara Vietnam mampu menghasilkan 6,1 ton per hektar. Kondisi ini menjadi sorotan utama para pelaku dan pengamat pertanian yang mengaitkannya dengan berbagai isu klasik seperti kesehatan lahan dan kesejahteraan petani.

Menurut Suripto, Penasihat Program BGN Agripreneur, sekitar 60 persen lahan pertanian Indonesia mengalami kerusakan akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dan tidak tepat. Kerusakan ini mencakup penurunan kesuburan tanah dan menurunnya kualitas hasil panen, yang akhirnya berdampak pada tingkat produksi secara keseluruhan. Tidak heran apabila negara lain seperti Vietnam dapat mencapai produktivitas yang lebih tinggi dengan praktik pertanian yang berbeda.

Selain masalah kualitas lahan, sektor pertanian Indonesia juga menghadapi tantangan besar berupa regenerasi petani yang semakin menipis. Rata-rata usia petani nasional saat ini sudah melebihi 50 tahun, sebuah kondisi yang mengkhawatirkan untuk kesinambungan produksi pangan dalam jangka panjang. Minimnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian diperburuk oleh keadaan kesejahteraan petani yang rendah, sehingga sektor ini muncul sebagai pilihan profesi yang kurang menarik dibandingkan bidang lainnya.

Menanggapi tantangan tersebut, PT Berniaga Gemilang Nusantara (BGN) meluncurkan program inovatif bernama BGN Agripreneur. Program ini bertujuan mencetak generasi baru wirausahawan pertanian yang mengadopsi teknologi digital dan metode pertanian ramah lingkungan. “BGN Agripreneur adalah ikhtiar kami untuk mengubah tantangan tersebut menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan,” ujar H. Suroto Zaffirt, pemilik PT BGN.

Program ini berbasis pada keberhasilan produk pupuk organik Mustika Tani yang telah terbukti meningkatkan kualitas panen serta efisiensi biaya bagi para petani. Misalnya, petani tebu dari Malang, Pak Edi, melaporkan peningkatan kadar gula hingga 19% brix pada tebu yang baru berumur enam bulan, jauh lebih cepat daripada biasanya yang memerlukan waktu satu tahun. Sementara itu, Haji Andre, eksportir sayuran dengan lahan seluas 3.000 hektar, mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk organik BGN mampu menghemat biaya pemupukan, mempercepat masa panen, serta meningkatkan kualitas produk sehingga sesuai standar pasar ekspor, bahkan sudah sampai ke Taiwan.

Pentingnya adopsi teknologi digital dalam pertanian juga menjadi poin penting dalam program ini. Dengan lebih dari 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Februari 2025, peluang untuk memperluas jangkauan pasar produk pertanian sangat besar. Menurut Danny Ramdani, praktisi pemasaran digital, keberadaan pasar digital sudah bukan lagi sebuah opsi, melainkan sebuah keharusan agar petani dan pelaku agribisnis bisa bersaing.

BGN Agripreneur hadir tidak hanya sebagai solusi memperbaiki kualitas pertanian nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga sebagai upaya memanfaatkan potensi pasar organik global yang diperkirakan mencapai nilai Rp11.200 triliun pada 2032. Sementara itu, pasar organik domestik Indonesia dengan nilai sekitar Rp2.400 triliun diklaim masih belum optimal digarap.

Pengembangan pertanian berkelanjutan melalui pupuk organik dan teknologi digital ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi generasi muda dan memperbaiki kondisi pertanian yang selama ini bergantung pada bahan kimia. Jika tren ini terus didukung, bukan tidak mungkin produksi padi Indonesia akan mengalami peningkatan signifikan yang mampu mengimbangi bahkan melampaui negara-negara pesaing seperti Vietnam.

Terkait