Karim Siregar, mantan Direktur Utama PT Bank Jago Tbk (ARTO), kini resmi berlabuh sebagai Executive Vice President di PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN). Hal ini menandai perpindahan Karim dari sektor perbankan ke multifinance, di mana ia menilai prospek bisnis BFI Finance cukup menjanjikan ke depan.
Karim mengonfirmasi kabar tersebut dan menyatakan optimisme terhadap peluang yang dimiliki BFI Finance. “Banyak opportunity untuk BFI ke depannya,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Bisnis. Penunjukan Karim sebagai pejabat nonstruktural setingkat direktur di BFIN menambah deretan profesional berpengalaman yang didapuk untuk menguatkan manajemen perusahaan.
Selama tiga tahun terakhir, Karim memimpin Bank Jago yang juga berada di bawah kendali konglomerat Jerry Ng. Peralihan kepemimpinan di Bank Jago dari Karim ke Arief Harris Tandjung terjadi pada tahun 2023. Setelah itu, Karim menjabat sebagai Chairman untuk D’Katalis pada periode 2023-2025 dan kini mengemban tanggung jawab sebagai Chief Executive Officer sejak 2024 di perusahaan teknologi yang juga merupakan proyek Jerry Ng.
Jejak karir Karim yang dipelopori dari latar belakang teknik mesin ITB telah menjalin hubungan erat dengan ekosistem bisnis Jerry Ng. Selain Bank Jago, Karim juga pernah terlibat dalam pengelolaan PT Bank BTPN Tbk, saat Jerry Ng bermitra dengan Patrick Walujo dari Northstar Pacific Group sebelum menjual sahamnya kepada SMBC Jepang. Kerjasama Jerry Ng dan Patrick Walujo berlanjut pada akuisisi Bank Artos, yang kemudian direstrukturisasi menjadi Bank Jago.
Keterkaitan Jerry Ng dengan BFI Finance juga diperkuat melalui kepemilikan saham mayoritas. Jerry Ng mengendalikan BFIN lewat Trinugraha Capital & Co SCA, dengan kepemilikan sebesar 51,12%. Trinugraha Capital sendiri dikendalikan oleh Baltica International dengan porsi saham sekitar 98,44%. Selain itu, konglomerat Boy Thohir turut memiliki saham minoritas dalam Trinugraha Capital.
Dari sisi kinerja, BFI Finance mencatatkan pertumbuhan yang solid selama semester I tahun 2025. Laporan keuangan per 30 Juni 2025 menunjukkan pendapatan perusahaan meningkat 6,21% menjadi Rp3,30 triliun, naik dari Rp3,10 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih pun tumbuh 11,1% menjadi Rp762,2 miliar, dibandingkan dengan Rp685,7 miliar di semester I/2024.
Peningkatan juga terlihat pada posisi ekuitas perusahaan yang naik 3,28% secara year-to-date (ytd) menjadi Rp10,5 triliun dari Rp10,1 triliun pada Desember 2024. Sementara itu, liabilitas BFI Finance mengalami penurunan sebesar 0,78% menjadi Rp14,8 triliun per Juni 2025 dari Rp14,9 triliun pada akhir tahun 2024.
Tidak hanya liabilitas, posisi aset perusahaan juga menunjukkan tren positif. Pada semester pertama 2025, aset BFI Finance meningkat 0,86% menjadi Rp25,33 triliun, naik dari Rp25,11 triliun pada akhir 2024. Hal ini mencerminkan upaya perusahaan dalam memperkuat neraca dan mendorong pertumbuhan bisnisnya di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Dengan latar belakang Karim Siregar yang kuat di sektor finansial dan dukungan pemilik yang solid, BFI Finance diperkirakan akan terus memperkuat posisinya di industri multifinance. Peran Karim diharapkan dapat memberikan kontribusi strategis dalam mengoptimalkan peluang yang ada dan memperluas pangsa pasar perusahaan ke depan.
Source: finansial.bisnis.com







